KANDIDAT PEMIMPIN YANG MENYATU DENGAN RAKYATNYA
Oleh: Winner Indi Manega
Gencarnya arus perubahan yang terus menuntut lebih terbuka, adil, merata, demokratis dan memihak rakyat kecil semakin terasa seiring dengan merambahnya perubahan peluang pasar bebas dan tuntutan mengatasi pemanasan global yang tak dapat ditunda. Bersatunya anak bangsa bersama pemimpin yang mumpuni, mengerti dan memahami untuk membela nasib rakyat serta bersikap ramah lingkungan perlu disiapkan sejak dini dan berkelanjutan. Tak ayal lagi, siapa yang dicari kalau bukan kandidat anak bangsa yang lebih peduli dengan nasib si miskin, dapat membuka peluang kerja, mengedepankan kaum wanita, mengutamakan persatuan anak negeri dan pandai menjaga keseimbangan lingkungan.
Kini negara sedang terpuruk karena krisis kepemimpinan. Mengapa seolah tak ada pemimpin negara, legislatif maupun eksekutif yang bersifat negarawan? Tak ada yang mempunyai pandangan jangka panjang, melainkan “oportunistik” mencari keuntungan sesaat bagi golongan dan dirinya. Tak ada yang berpihak pada rakyat miskin. Rakyat hanya digunakan sebagai slogan melulu. Untuk itu, pemupukan jiwa kepemimpinan anak sejak usia dini perlu dilakukan segera, artinya peran pendidikan dan orang tua menjadi utama untuk mengisi kandidat pemimpin bangsa yang berpihak pada rakyat. Anak muda harus berani menjanjikan masa depan yang dinamis dan maju. Dicari anak muda, berbakat, kreatif, jujur dan bermoral sebagai kandidat yang menunjukkan komitmennya meneguhkan kepemimpinannya kelak untuk rakyat dengan hasil yang nyata. Bukan hanya kandidat yang hanya pandai membual dan obral janji kosong, melainkan kandidat pemimpin bangsa Indonesia masa depan dituntut mampu berperang melawan kemiskinan dan keterbelakangan!
Pendidikan formal dan non-formal sangat diperlukan untuk memupuk kandidat pemimpin bangsa yang besar, maju, dan dapat menjadi suri tauladan. Berawal dari keharmonisan kehidupan keluarga, pandai bergaul dan bermasyarakat di kampung halamannya dan di sekolahan, belajar beroganisasi sosial dan berusaha selalu menjadi pelopor dan tidak otoriter dalam berteman. Belajar demokrasi, bermufakat secara musyawarah dimulai dari kelompok kecil adalah dapat melatih anak bertoleransi dan lebih demokratis. Kompetisi yang semakin ketat, menuntut anak sebagai kandidat pemimpin bangsa perlu menimba ilmu dan pengalaman nyata di masyarakat dan di alam bebas, sehingga tidak canggung dan lebih arif. Anak perlu bermain bebas dan gembira, anak perlu belajar tanggungjawab terbesar untuk menentukan dan mewujudkan pendapat mereka menjadi sebuah bentuk presentasi yang kreatif dan tepat sasaran. Pembelajaran pada anak seyogyanya lebih mengutamakan anak sebagai kandidat pemimpin bangsa yang dekat dengan rakyatnya, memiliki moral, etika dan berbudi luhur. Kandidat pemimpin yang dicari harus mampu membawa estafet pembangunan yang berorientasi pada pembangunan manusianya, agar kualitas sumber daya manusia terus meningkat. Paham dan peka terhadap masalah kekinian yang merupakan landasan untuk mengatasi masalah yang sedang dihadapi dan akan mampu membawa rakyatnya ke tingkat kesejahteraan material dan spiritual yang lebih baik adalah amanah bagi pemimpin masa kini.
Pendidikan yang dapat menelorkan kandidat pemimpin bangsa yang merakyat tidaklah diartikan dalam arti sempit, yaitu pendidikan ilmu dan teknologi saja. Tidak hanya pendidikan yang hanya tahu “salah” dan “benar”, tapi juga dapat memberi kebebasan berekspresi dan ruang kreatif, sehingga yang ada adalah baik, baik, ….. baik dan bagus! Pendidikannya tidak hanya pasif, menunggu dan diberi, tapi lebih pada mencari pengetahuan dan pengalaman secara aktif dan mandiri. Harapan yang tidak kurang pentingnya ialah pendidikan untuk menciptakan sumber daya manusia yang bersifat “satria”. Sebab kandidat pemimpin yang baik dan berbudi hanyalah dapat tercipta oleh perbuatan satria. Semangat dan komitmen yang tinggi terhadap kewajibannya, tidak meninggalkan jati-dirinya sebagai seorang satria, bertakwa kepada Tuhan dan mempunyai rasa tanggung jawab yang tinggi terhadap kewajibannya. Berani mengambil keputusan yang benar, pandai menyampaikan amanah yang diemban pada khalayak. Tak gentar akan derasnya cercaan dan cobaan serta mampu mengatasi berbagai masalah maupun bencana yang tak kunjung henti secara arif dan bijaksana. Tumpuannya pada estafet sumber daya manusia yang kreatif, jujur, amanah, berkemampuan serta beretos kerja gigih. Sifat itu dapat terlaksana apabila ada idealisme, komitmen yang tinggi, integritas moral dan nurani yang bersih pada anak muda generasi penerus. Hanya dengan sumber daya manusia yang demikian akan dapat terlaksana munculnya kandidat pemimpin bangsa idaman yang dapat menyatu dengan rakyatnya, karena dengan persatuan dapat menghimpun potensi kekuatan bangsa lebih maju dan mandiri.
Kandidat pemimpin yang menjadi idaman kaum marjinal adalah tidak hanya pandai berjanji dan obral teori saja, serta tidak sekedar membuat slogan atau janji retorika belaka. Kini masyarakat lebih siap bersama-sama berperan serta dalam setiap tindakan nyata. Impian masyarakat menyerukan agar dapat dilakukan pembangunan dengan pendekatan peningkatan mutu kehidupan secara kualitatif. Pendekatan ini menarik untuk dilanjutkan, karena terkandung dinamika peningkatan mutu dalam suatu perubahan lingkungan yang seimbang. Meskipun akan muncul tantangan maupun kendala yang menghadang adanya kondisi keseimbangan lingkungan yang mengalami akselerasi secara kualitatif, tentu berupa peningkatan mutu hidup dan kualitas lingkungan melalui daya kreasi manusia dan daya dukung yang lestari. Pemimpin yang ideal harus memiliki solusi cerdas untuk mengatasi hal tersebut. Faktor pendukung yang menjadi pemikiran anak muda sebagai salah satu aspirasi masyarakat yang sederhana adalah adanya kondisi biofisikal yang membatasi pertumbuhan ekonomi, dan faktor kondisi etika sosial yang membatasi hasrat pertumbuhan dan kemajuan bangsa yang besar.
Bermodal semangat dan pekik perjuangan para pahlawan yang dapat menggetarkan hati, sebenamya kandidat pemimpin bangsa dapat mulai menumbuhkan rasa kebangsaan dan cinta tanah air. Kita sebagai generasi muda penerus semangat juang harus rajin belajar senyampang berjuang, mengabdi pada ibu pertiwi untuk mengisi kemerdekaan. Kandidat pemimpin bangsa perlu menimba ilmu dari keberadaan proklamator dan para pemimpin bangsa yang telah sukses menyejahterakan rakyatnya. Mari bersama-sama, dengan bermodal semangat kemerdekaan kita tingkatkan prestasi dan kepribadian untuk masa depan bangsa! Mari, kita sebagai pewaris nilai perjuangan dan kepahlawanan, bersama-sama melestarikan budaya dan sejarah, agar generasi muda pada masa sekarang dan generasi selanjutnya tidak buta terhadap kekayaan budaya dan sejarah perjuangan bangsa Indonesia di masa lalu.
Agar pembangunan dapat lebih bermanfaat bagi rakyatnya, fakta telah menunjukkan bila pembangunan tanpa melibatkan masyarakat setempat, akibatnya masyarakat yang akan menanggung risiko. Aspirasi kelompok masyarakat yang berkembang menginginkan rakyat-lah sebagai penentu utama perencanaan, pelaksanaan, dan pengontrol pembangunan. Pelestarian identitas, ciri khas, dan keunikan setempat dapat terangkat dengan memberikan tempat secara hukum, terlepas dari latar belakang sosial, etnis, dan jendernya. Menghormati hak ekonomi dan budaya merupakan upaya mengembalikan kedaulatan rakyat dalam menata ruang hidupnya. Kandidat pemimpin, lebih peka serta mengetahui terlebih dahulu bila rakyat perlu mendapatkan kesempatan untuk melakukan proses belajar bersama agar dapat menjadi pelaku utama dan proaktif, sehingga dapat memberikan sumbangan mendasar yang penting bagi tegaknya keadilan dalam perencanaan dan pengelolaan lingkungan yang berjati diri, layak huni, nyaman, dan lestari.
Rakyat telah lama mengharap, penanganan masalah lingkungan tempat tinggalnya dilakukan dengan berpegang pada kearifan lokal dalam mengatasi permasalahan kesejahteraan dengan peluang usaha dan kesempatan kerja. Tetapi juga dapat diupayakan program penanganan lebih serius dan terpadu agar betul-betul “melayani” sesuai dengan aspirasi, demokratis, mengandalkan sumberdaya, potensi, dan kompetensi lokal. Pengelolaan potensi dan kompetensi lokal secara partisipatoris, inklusif, demokratis dan berkelanjutan adalah menjadi tujuan utama penanganan lingkungan tempat tinggal.
Bekal pengetahuan yang perlu dimiliki kandidat pemimpin bangsa, adalah bagaimana dapat menangani pembangunan yang lebih terencana, terarah, manusiawi, serius dan terpadu diyakini dapat secara berangsur-angsur menyelesaikan masalah lingkungannya? Buruknya layanan hunian masyarakat kecil sesungguhnya karena ketidakmampuan dari segi ekonomi dan pendidikan, itu-pun dapat diatasi dengan pendekatan yang lebih diarahkan pada saling pemberdayaan ekonomi agar lebih banyak peluang usaha dan kesempatan kerja. Partisipasi masyarakat lokal di lingkungan masyarakat dalam kegiatan investasi sangat perlu ditunjang dan diperhatikan. Keterlibatan masyarakat lokal juga dapat dilakukan dengan mendorong masyarakat merebut peluang yang timbul sebagai efek suatu investasi. Apabila memimpin tanpa ada keseriusan melaksanakan kegiatan secara terpadu, tapi sendiri-sendiri secara sektoral dalam penanganan lingkungannya dengan tanpa memperhatikan kearifan lokal, program yang dijalankan tidak akan dapat menyelesaikan permasalahan utama untuk mengangkat kesejahteraan masyarakat dan keberlanjutan pembangunan secara tuntas.
Keterpaduan penanganan pembangunan kelak, mempunyai implikasi efisiensi dan efektifitas dalam pola pendanaan, materi penanganan, waktu penanganan yang tepat sasaran sesuai kebutuhan rakyat. Pola penanganan pembangunan yang serius dan terpadu ditawarkan dengan tiga modal utama, yaitu adanya kelembagaan yang baik, keterbukaan dan partisipasi masyarakat yang makin menyatu. Kelembagaan yang menangani pembangunan lingkungan perlu dibenahi dan diperjelas lagi tentang peran dan tugasnya agar lebih efisien dan efektif sehingga tidak terjadi tumpang tindih program pembangunan.
Melalui keterbukaan dapat menggalang partisipasi masyarakat ke tingkat tertinggi yaitu kewenangan dan keputusan masyarakat menjadi jelas. Muaranya, pemimpin yang baik tidak hanya memberi perhatian kepada masyarakat yang mempunyai tingkat pertumbuhan ekonomi yang tinggi, tetapi juga harus dapat menciptakan masyarakat yang dinamis. Dalam hal ini, dinamis mempunyai nilai yang sama dengan proses pembangunan partisipatif, mewujudkan masyarakat yang mandiri dan dinamis di era demokrasi sebagai masyarakat yang para anggotanya memiliki kemampuan untuk berpikir alternatif.
Pada satu sisi pemimpin mempunyai hak kekuasaan yang besar. Kekuasaannya laksana ‘dewa’. Ia adalah pemegang hukum dan penguasa dunia. Pada lain pihak, ia mempunyai kewajiban yang besar dan berat. Ia suka memberi dan berkewajiban untuk konsisten melaksanakan apa yang dikatakannya secara benar. Kandidat pemimpin yang berkesempatan memegang tampuk kepemimpinan dan berkuasa hendaknya dapat lebur, berbaur dan menyatu dengan rakyatnya. Tidak hanya dekat dengan rakyat jelata, tapi penuh perhatian sertai dicintai, menjadi tumpuan harapan dan kebanggaan bagi rakyatnya. Ia sangat berbudi luhur dan bersifat adil, tapi juga penuh kasih sayang terhadap semua yang hidup. Pemimpin yang cerdik, cerdas, dan pandai mendahulukan yang harus didahulukan; kepemimpinannya dapat memberi suri tauladan.
Hak partisipasi anak yang diberikan akan membuat ia lebih tanggap, dapat bertindak cepat dan tepat dalam penanganan musibah dan bencana yang diderita rakyat secara bertubi-tubi. Kandidat pemimpin yang mempunyai sikap rela dan ikhlas untuk melayani masyarakat. Ia adalah abdi rakyat. Ia bersifat suka memberi, khususnya kepada rakyat miskin dan yang sedang mengalami musibah serta kesusahan. Dimanifestasikan pemimpin bangsa harus mampu berusaha untuk memberi sumbangan pada penyelamatan lingkungan hidup yang berarti pula menyumbang pada usaha menyelamatkan kemanusiaan di seantero bumi ini. Pemimpin harus dapat berlaku seimbang antara hak dan kewajiban. Kekuasaannya didasarkan pada budi luhur dan sifat adil.
Dalam rangka pencarian kandidat pemimpin bangsa tidak menutup kemungkinan bermunculan wanita sebagai pemimpin, seiring isu perempuan atau jender yang makin menguat. Frekuensi isu perempuan di media massa makin meningkat. Apalagi dengan adanya Hari Ibu dan Hari Perempuan. Ini wajar, karena hari depan kita ada di tangan perempuan. Perempuanlah yang mengandung dan melahirkan bayi. Apabila kesehatan ibu tidak baik, pertumbuhan janin-pun terganggu. Kini, kaum perempuan mempunyai kedudukan penentu bagi generasi yang akan datang. Namun peranan perempuan yang sangat penting itu tidak dapat dilaksanakan dengan baik karena pencemaran dan kerusakan lingkungan lainnya serta kemiskinan. Karena itu seyogyanya kita memperhitungkan perempuan dalam pengkaderan pemimpin bangsa. Bangsa Indonesia agar tidak menjadi bangsa yang terbelakang, yang hanya mampu merengek, mengirim tenaga kerja wanita yang tidak berkualitas.
Seorang kandidat pemimpin bangsa, selalu siap menjadi abdi rakyat dan dengan ikhlas serta rela melayaninya. Sifat kandidat pemimpin bangsa yang adil dan bijaksana ditunjukkan ketika memimpin berkewajiban memperhatikan semua golongan masyarakat dengan adil dan mendahulukan yang harus didahulukan. Pemimpin tersebut mau menerima saran dan kritik untuk berputar haluan merubah kebijaksanaan, memiliki “budaya malu” untuk secara ikhlas mundur dari tampuk kepemimpinan apabila tak mampu melaksanakan amanah serta terbukti melakukan kesalahan. Dalam bahasa kekinian perlu punya ‘simpati’ dan ‘empati’ pada rakyat yang masih miskin dan terbelakang, termasuk pula memberi akses seluas-luasnya kepada kaum perempuan yang kini masih mengalami diskriminasi dalam berbagai bidang. Telah tiba saatnya, dan kapan lagi kandidat perempuan mampu berkiprah, mempelopori dan memimpin bangsa dalam berbagai peran dan kegiatan nyata bagi tanah tumpah-darah dan ibu pertiwi dengan segenap jiwa raga?
Memperhatikan dan membantu kaum miskin dan perempuan tidak hanya dengan memberi pangan, sandang, dan papan, tetapi yang lebih penting lagi ialah dengan memberi kesempatan bagi mereka untuk berperan dan berkualitas. Kesempatan itu berawal dari luasnya lapangan pekerjaan dan peningkatan mutu pendidikan yang terjangkau rakyatnya. Dengan demikian, tugas penting pemimpin bangsa ialah berupaya meningkatkan kualitas sumberdaya manusia. Mampu menyatukan bangsa, tidak hanya bisa bersatu dengan rakyatnya, tetapi dapat memenuhi tuntutan dan harapan rakyatnya, memberi kesempatan yang adil dan merata serta memberikan kemampuan kepada masyarakat untuk memanfaatkan kesempatan tersebut adalah tugas memanusiakan yang mulia.
Agaknya, kandidat pemimpin bangsa yang ideal tersebut di Indonesia belum juga terwujud. Keterlibatan anak secara langsung dalam kegiatan perwujudan hak anak akan mampu membuahkan perkembangan dan kematangan jiwa mereka sebagai kandidat pemimpin bangsa. Persiapan kandidat pemimpin sejak anak usia dini, berawal dari peran orang tua, pemberian kebebasan memilih dan hak patisipasi anak, perubahan cara ajar dalam pendidikan, serta dimulai dari diri kita dan sekarang juga!
Yogyakarta, 10 Oktober 2009
Penulis,
Winner Indi Manega
Siswi Klas X RSBI 1, SMA Muhammadiyah 1 Yogyakarta
Nomor Induk 17820/Nomor Absen 31
Tidak ada komentar:
Posting Komentar