MENGAYUH, MENGAGUMI HERITAGE JOGJA

MENGAYUH, MENGAGUMI HERITAGE JOGJA
Oleh: Winner Indi Manega


Kebiasaan naik sepeda akan membuat kita lebih sehat. Tak hanya itu, semakin banyak orang bersepeda, udara menjadi lebih bersih dan tidak bising. Begitu populernya sepeda, yang menggunakannya adalah segenap lapisan masyarakat. Mereka menggunakan untuk transpor ke sekolahan, ke pekerjaan (Sego Segawe) dan tempat belanja atau sekedar untuk rekreasi berkeliling Jogja sebagai kota heritage yang menawan. Sepeda populer di kalangan rakyat kecil, karena sepeda adalah alat transpor yang murah. Untuk menggerakkannya tidak memerlukan Bahan Bakar Minyak (BBM), melainkan cukup dengan dikayuh. Apabila penggunaan sepeda dapat dibangkitkan lagi, kemacetan lalulintas akan berkurang, efisiensi penggunaan BBM meningkat dan biaya transpor berkurang.
Sepeda merupakan alat transpor yang sehat. Untuk menggerakkannya diperlukan tenaga manusia, yaitu dengan mengayuh atau ngonthel (Bahasa Jawa). Aspek kesehatan ini diakui masyarakat luas, terutama masyarakat lapisan menengah dan atas. Mereka membeli sepeda statis yang mahal harganya. Sepeda adalah alat transpor ramah lingkungan. Pencemaran yang disebabkan olehnya hanya gas CO2 dan uap air dari pernafasan pengendaranya. Karena efisiensi penggunaan energi pada sepeda lebih tinggi daripada dengan mobil. Penggalakan penggunaan sepeda akan mempunyai dampak yang besar pada lingkungan. Tidak pula ada gas yang menyebabkan hujan asam dan gas beracun serta debu halus yang menyebabkan penyakit asma. Tidak pula ada zat pencemar logam berat yang menghambat perkembangan sistem syaraf pusat pada anak-anak. Kebiasaan bersepeda, tidak membuat generasi penerus kita mempunyai kemampuan berpikir yang lebih rendah daripada kita. Kebiasaan mengayuh sepeda, berekses menurunnya pencemaran, kesehatan akan meningkat, sehingga biaya kesehatan turun dan kehilangan hari kerja karena sakit juga turun.
Peningkatan penggunaan sepeda akan memacu industri persepedaan. Produksi banyak onderdil sepeda dapat dilakukan oleh pengusaha kecil, misalnya rem dan sadel. Jadi akan menciptakan lapangan pekerjaan. Lapangan pekerjaan juga tercipta dari perakitan dan perdagangan sepeda. Selanjutnya dengan membangkitkan wisata bersepeda di kota Jogja yang penuh peninggalan sejarah dan purbakala akan tumbuh usaha penyewaan sepeda. Membiasakan penggunaan sepeda merupakan salah satu usaha menjadikan penduduk di kota pendidikan tumbuh sehat di lingkungan udara yang semakin segar. Jogja sebagai kota sepeda akan semakin populer heritagenya untuk kegiatan eko-wisata yang memihak rakyat kecil.
Walaupun sepeda mempunyai banyak sifat yang baik, namun membiasakan penggunaan sepeda menghadapi banyak kendala. Kendala terbesar adalah budaya. Kita sangat sadar pada simbol status. Sepeda dianggap sebagai kendaraan orang miskin. Naik sepeda dianggap tidak bergengsi, kalah dari motor, apalagi mobil. Alasan lain yang sering dikemukakan tidak mau naik sepeda karena beriklim tropik. Karena itu panas dan tidak sesuai untuk bersepeda. Tetapi kita kan orang tropik yang telah teradaptasi pada iklim tropik, seharusnya sudah terbiasa dengan suhu panas. Semestinya iklim bukanlah kendala untuk bersepeda.
Kendala lain ialah pengendara sepeda tidak mempunyai hak jalan. Sedikit sekali jalur khusus untuk sepeda. Tanda jalur alternatif terdekat untuk sepeda, hanya memberikan rasa tenteram bagi pengendara karena lebih dekat mengayuhnya. Apabila telah ada jalur sepeda, perlu dilestarikan, tetapi apabila belum ada perlu diusahakan, minimal dengan garis pembatas khusus untuk orang bersepeda. Bukankah jalur lambat sering dilanggar pelawan arus, tetapi tak ada wasit yang meniup peluit. Kini sudah terlanjur pohon peneduh ditebangi untuk pelebaran jalan. Meskipun jalan aspal menjadi lebar, tapi jalur sepeda menjadi satu dengan jalur mobil dan motor. Lebih runyam lagi jalur sepeda sudah kalah dengan jalur Bus Trans Jogja dan parkir kendaraan bermotor, bahkan jalur sepeda kalah dengan kaki lima di badan jalan.
Tak dapat dihindari, kelakuan pengendara motor dan mobil yang tidak menghormati hak jalan pengguna jalan lain. Adanya tanda jalur sepeda dengan cat putih kurang menjamin keamanan pengendara sepeda. Seyogyanya dibuat pemisah jalur secara fisik atau tanaman pembatas. Perlu dikaji adanya aturan bagi pengendara mobil dan motor yang membuat cedera pengendara sepeda dikenai hukuman lebih berat. Sulitnya mencari tempat parkir sepeda yang aman di Kota Sepeda Jogja, apalagi yang disertai karcis khusus parkir sepeda. Apabila tidak ada tukang parkir yang dilengkapi parkir sepeda, amankah sepeda dirantai pada tiang yang disediakan di tengah taman kota?
Mengayuh, mengagumi Jogja sebagai kota heritage diupayakan dikembangkan dengan berbagai inovasi, agar lebih banyak penggemar naik sepeda. Membiasakan mengayuh sepeda terkandung maksud selain mendukung program langit biru, juga untuk menumbuhkan semangat dan kunjungan wisata di kota budaya Jogja.

Yogyakarta, 11 Agustus 2009
Penulis,


Winner Indi Manega
Siswi Klas X RSBI, SMA MUHI Yogyakarta
Nomor Induk 17820/Nomor Absen 31

Selasa, 04 Februari 2014

”Kuatnya Akar Bangunan Gedung yang Andal”



By: Winner Indi Manega

Gencarnya arus perubahan yang terus menuntut lebih terbuka, adil, merata, demokratis dan memihak rakyat kecil semakin terasa seiring dengan merambahnya perubahan peluang pasar bebas bagi usaha rancang bangun konstruksi dan tuntutan mengatasi pemanasan global yang tak dapat ditunda. Bersatunya penentu kebijakan dan profesional ahli bangunan bersama pekerja yang mumpuni, mengerti dan memahami untuk membela nasib buruh bangunan serta bersikap ramah lingkungan perlu disiapkan sejak dini dan terus-menerus. Tak ayal lagi, siapa yang dicari kalau bukan kandidat pelaku rancang bangun konstruksi yang berkapasitas dan kompetitif, lebih peduli dengan nasib si buruh, dapat membuka peluang kerja, mengedepankan kaum wanita, mampu berdaya saing dan pandai menjaga keseimbangan lingkungan.
Mengapa seolah tak ada profesional ahli bangunan yang loyal, merancang dan membangun konstruksi secara andal, bisa arif menjaga kelestarian alam secara bersamaan dapat meningkatkan kesejahteraan? Tak ada yang mempunyai pandangan jangka panjang, melainkan “oportunistik” mencari keuntungan sesaat bagi golongan dan dirinya. Tak ada yang berpihak pada rakyat miskin. Rakyat hanya digunakan sebagai slogan melulu. Untuk itu, pemupukan jiwa profesi ahli rancang bangun sejak dini perlu dilakukan segera, artinya peran pendidikan dan orang tua menjadi utama untuk mengisi kandidat pelaku rancang bangun konstruksi yang unggul mampu berpihak pada rakyat dan melestarikan lingkungan.
Semangat dan komitmen yang tinggi terhadap kewajibannya, tidak meninggalkan jati-dirinya sebagai seorang profesional, bertakwa kepada Tuhan dan mempunyai rasa tanggung jawab yang tinggi terhadap kewajibannya. Berani mengambil keputusan yang benar, pandai menyampaikan amanah yang diemban pada khalayak. Tak gentar akan derasnya cercaan dan cobaan serta mampu mengatasi berbagai masalah maupun bencana yang tak kunjung henti secara arif dan bijaksana. Tumpuannya pada estafet sumber daya manusia yang kreatif, jujur, amanah, berkemampuan sesuai dengan kompetensi dan kapasitasnya, serta beretos kerja gigih untuk mampu bersaing. Sifat itu dapat terlaksana apabila ada idealisme, komitmen yang tinggi, integritas moral dan nurani yang bersih pada pelaku rancang bangun konstruksi. Hanya dengan sumber daya manusia yang demikian akan dapat terlaksana munculnya penentu kebijakan, pembuat regulasi yang bijak dan profesi ahli rancang bangun konstruksi yang dapat memikirkan pekerja dan buruh bangunan. Kenapa profesionalisme keahlian rancang bangun konstruksi menjadi penting? Hal ini disebabkan, karena dengan keahlian yang kompeten sesuai kapasitasnya dapat menghimpun potensi kekuatan merancang dan membangun bangunan gedung secara lebih andal dan berkelanjutan.

Anak muda harus berani menjanjikan masa depan yang dinamis dan maju. Dicari anak muda, berbakat, kreatif, jujur dan bermoral sebagai kandidat yang menunjukkan komitmennya  meneguhkan kemauan dan kemampuan profesi rancang bangun yang kelak untuk rakyat dengan hasil yang nyata bangunan lebih andal. Bukan hanya kandidat yang hanya pandai membangun sekaligus merusak lingkungan demi keuntungannya, melainkan kandidat pelaku rancang bangun masa depan, yang dituntut mampu membangun keandalan bangunan secara berkelanjutan. Pelaku rancang bangun berawal dari pemasok material, pekerja, tenaga ahli, pengusaha, pemilik bangunan hingga penentu kebijakan. Manusia memproduksi material dari bahan baku yang berasal dari alam, lebih lanjut mengacu pernyataan Harjanto (2003), agar ramah lingkungan eko material prosesnya menggunakan teknologi yang ada maupun baru, untuk selanjutnya digunakan untuk memenuhi keperluan hidup serta dalam rangka peningkatan kenyamanan.
Daur proses rancang bangun konstruksi sudah seyogyanya mampu menjawab kerusakan lingkungan yang kian parah, mampu menghadirkan konstruksi bangunan gedung yang andal, kokoh, kukuh kuat, aman, nyaman, asri dan lestari. Bangunan gedung yang andal sudah selayaknya tak lekang oleh panas, tak goyah oleh angin, tak lapuk oleh hujan; dan tak ayal lagi, dapat menyatu dengan alam serta mudah hancur di telan alam. Di tengah-tengah perubahan iklim, ganasnya pemanasan global, semakin parahnya kerusakan lingkungan, disertai keterbatasan sumberdaya dan energi, maka kegiatan rancang bangun konstruksi seharusnya mampu memberi kontribusi bagi upaya mitigasi hal tersebut. 
Keseluruhan bangunan gedung yang andal harus dilakukan secara profesional melalui proses yang memenuhi kaidah keteknikan secara baik. Disajikan secara utuh dan harus menunjukkan kekokokan, keawetan, keutuhan fungsi, memenuhi estetika dan aman bagi pemakai. Hasil akhir akan memberi nilai tambah bagi kesejahteraan masyarakat. Mampu menghasilkan kineja pengusaha rancang bangun konstruksi yang utuh di semua aspek, baik pada posisi perencanaan, pelaksanaan maupun pengawasan. Lebih andal lagi, konstruksi bangunan gedung dapat mengantisipasi setiap jenis kerawanan daerah  rawan bencana dengan mengikuti aturan spesifikasi bangunan di daerah rawan bencana.
Fenomena alam ini penting, menilik betapa bangunan gedung akan dapat dinyatakan memenuhi persyaratan laik fungsi apabila telah memenuhi persyaratan teknis, sebagaimana dimaksud dalam Bab IV undang-undang ini.” (UU 28/2002, pasal 37 (2). Untuk itu, pemanfaatan fungsi bangunan secara optimal akan dapat terpenuhi bila seiring dengan terpenuhinya prosedur kerja dan aturan perijinan secara benar. Ketenangan dan kenyamanan penghunian didapat, karena keandalan bangunan secara fisik dan non fisik terpenuhi jelas tidak bertentangan dengan norma, standard, dan adat masyarakat. Dalam rancangan produksi rancang bangun diusahakan agar pada akhir masa guna produk itu sebanyak mungkin komponen produk dapat didaur-guna dan didaur-ulang. Dengan demikian produk desain bangunan gedung menghasilkan buangan atau limbah yang minimum pada waktu masa gunanya habis. Di samping itu desainer juga merancang produk bangunan gedung yang mempunyai masa guna yang panjang. Desainer dapat menjadi alat dalam menciptakan pasar yang cukup untuk produk aman lingkungan. dapat meyakinkan klien bahwa desain yang sensitif secara lingkungan akan memperbaiki kualitas hunian dari kehidupan, kenyamanan, dan produktivitas, juga menghemat biaya operasi.
Perancang gedung yang sensitif secara lingkungan akan memperbaiki kualitas hunian dari kehidupan, kenyamanan, dan produktivitas, juga menghemat biaya proses operasi.  Sepintas dalam proses berkarya ini akan mengurangi volume tawar terhadap hasil karya. Tetapi dengan konsumen yang makin sadar terhadap lingkungan, bangunan gedung yang andal mempunyai masa guna yang panjang akan semakin disukai oleh konsumen. Proses berkarya mempunyai implikasi dalam pemilihan jenis masukan bahan dan energi. Pemasok bahan dan energi dipilih yang memenuhi syarat telah berusaha ramah lingkungan dan meminimumkan arus materi dan energi. Kelihatannya sederhana, akan tetapi mempunyai implikasi yang luas, sehingga dengan kesederhanaan ini mendapatkan lebih banyak materi dan energi dari sumber daya yang lebih sedikit.
Adanya globalisasi isu dan keprihatinan lingkungan hidup yang telah merambah pula dunia bisnis konstruski serta usahawan bangunan gedung tidak dapat lagi mengabaikan lingkungan hidup. Para desainer dan usahawan bangunan gedung harus bersikap ramah lingkungan. Barangsiapa berlaku anti-lingkungan hidup akan harus membayar mahal. Masyarakat yang menjadi konsumennya akan memilih produk lain dan cepat atau lambat daya saing mereka akan merosot. Mereka akan kehilangan pangsa pasarnya sehingga desain dan bisnisnya tidak lagi dapat hidup dengan berkelanjutan.
Kegiatan rancang bangun konstruksi gedung yang bertitik tolak dari proses berkarya desain, dimulai dengan merancang produk dengan tujuan meminimumkan kebutuhan bahan dan energi, maupun terbentuknya limbah. Melalui pendekatan ekologi pada masalah lingkungan hidup yang diakibatkan oleh aktivitas manusia dalam berkarya desain perlu dikembangkan peningkatan efisiensi proses berkarya, sehingga kebutuhan materi dan energi dapat ditekan sampai seminimal mungkin. Limbah proses berkarya dirancang untuk sebanyak-banyaknya didaur ulang atau menjadi produk samping bahkan dapat dipergunakan untuk karya lain.
Kuatnya akar bangunan gedung sesungguhnya bertumpu tidak hanya memenuhi norma, standar, pedoman dan kriteria saja, akan tetapi perlu ada serasi dan selaras seimbang dengan habitatnya. Selain berkualitas, bermanfaat dan berkelanjutan, diharapkan dapat memberikan nilai tambah bagi kesejahteraan, kedaulatan serta kebudayaan. Keandalan bangunan gedung tidak hanya ditentukan kokohnya pondasi dan kukuhnya kerangka atau kuatnya dinding penopang yang kuat, tapi juga, lingkungan dan kelengkapannya mudah dijangkau sehingga terpenuhi rasa aman, nyaman, sehat, asri dan lestari.  (Permen PU no 25/PRT/M/2007, halaman 3 sudah dimodifikasi)
Tulisan ini tidak bermaksud untuk memberikan solusi akhir bagaimana konstruksi gedung yang andal? Masalahnya, pelestarian alam kini lebih penting, sehingga bagaimana pembangunan dapat menerus tetapi tidak merusak alam namun melestarikannya hingga dapat memperbaiki sarana dan prasarana secara berkelanjutan. Ternyata ada dua fungsi dalam membangun hubungan konstruksi dan berkelanjutan. Pengalaman menunjukkan bahwa fungsi kedua, yaitu fungsi berkelanjutan rasa memiliki habitat tempat tinggal kita tidak dapat diabaikan. Kita harus menyadari adanya fungsi kedua ini, mendiskusikannya dan berusaha untuk melestarikan bumi pertiwi yang adiluhung ini, secara asri lestari diwariskan pada generasi berikutnya.
Yogyakarta, 22 September 2012
Penulis,

    (Winner Indi Manega)
Mahasiswi Jurusan Teknik Lingkungan,
 Nomor Mahasiwa 12513040
Fakultas Teknik Sipil, Universitas Islam Indonesia

Pustaka:
Harjanto Sri Eng, 2003. Ramah Lingkungan dan Eco Material, Departemen Metalurgi dan Material, FT Universitas Indonesia, Jakarta.
Peraturan Menteri PU No 25/PRT/M/2007 tentang Pedoman Sertifikat Laik Fungsi Bangunan Gedung

Senin, 12 Desember 2011

Koperasi Mampu Mendukung Perekonomian Bangsa Dalam Membangun Negeri

Koperasi Mampu Mendukung Perekonomian Bangsa Dalam Membangun Negeri
Oleh: Winner Indi Manega
Aku senang memperhatikan kegigihan perjuangan para pengurus dan pengelola koperasi yang dengan gagah berani mengarungi tantangan keengganan orang melakukan kebersamaan usaha, bahkan tak gentar menuai kritik maupun fitnah sekalipun. Menurutku, setiap saat kreativitas dalam pengelolaan koperasi selalu dimunculkan, berbagai cara telah ditempuh dengan kibaran bendera syariahnya, selalu ada ide dan gagasan baru untuk pengembangan usaha dan cara memotivasi anggotanya, tapi tidaklah semudah membalikkan tangan. Sebersit pertanyaan sering menggangguku, seiring seberapa untung dan kapan berhasilnya Koperasi Syariah di kampungku dapat mensejahterakan anggotanya? Kecemasan akan kecilnya semangat anggota, keengganan dan minat masyarakat, minimnya peralatan dan perbekalan modal awal yang tak sebanding dengan betapa sulitnya mengajak serta menyadarkan anggota untuk menumbuhkan rasa memiliki empat usaha koperasi, yaitu usaha jasa, pembiayaan, produksi dan perdagangan umum telah berani melawan gulungan modal kapitalis. Kuatnya kapitalis sebagai pemilik modal dalam menggelar sistem ekonomi konglomerat, konon tidak membawa kesejahteraan rakyat, tetapi lebih memungkinkan terjadinya korupsi, kolusi dan nepotisme.
Pesatnya perkembangan dan peranan lembaga keuangan mikro berbasis syariah, mendorong warga kampungku sebagai salah satu komunitas jama’ah di masjid untuk ikut serta berperan dalam membangun koperasi. Semangat dan kerja keras didasari kemauan dari seluruh anggota dan pendiri koperasi, telah mampu mengeembangkan koperasi secara legal formal. Koperasi  yang tumbuh  atas dasar solidaritas  dan kuatnya kerjasama antar individu, berpondasi kokoh kukuh dan kuat mengakar ke segenap anggota, diyakini dapat membawa anggotanya menuju pintu gerbang kesejahteraan. Sebenarnya, kepribadian bangsa Indonesia yang kokoh berakar ini telah dipunyai, berani berupaya keras apalagi berprinsip syariah tentu akan ditempuh secara terus menerus. Semenjak teraktualisasikannya prinsip syariah dalam pengelolaan ekonomi, Insya Allah dapat mewujudkan keadilan dan mensejahterakan bagi semua. Rahmatan lil ‘alamin. Pengelolaan koperasi syariah sudah dapat dipastikan, dilakukan secara loyal, dengan ikhlas, jujur dan terbuka mencerminkan kepercayaan secara profesional dengan responsibilitas tinggi yang menjunjung semangat solidaritas demi tumbuhnya persahabatan yang kokoh.
               Semua resiko dalam konsep syariah sebenarnya harus ditanggung secara bersama. Hal ini dikarenakan di dalamnya ada azas keseimbangan, ada azas keadilan, pada penerapan konsep syariah.  Tampaknya perbedaannya hanya pada pada azas, tapi sebenarnya masalah azas dan masalah akad, prinsip dalam syariah akadnya harus seimbang dan adil. Kalau dalam konsep kapitalis, semua proses ukurannya pada pemegang modal, karena pemilik modal sebenarnya yang berkuasa.
               Dalam konsep syariah, keberadaan uang harus didayagunakan untuk hal-hal yang bersifat produktif. Meniliki dari keberhasilan koperasi syariah, kemudian dibagikan dalam bentuk ada margin atau kegiatan. Jadi betul-betul keberadaan koperasi syariah dapat menghasilkan sesuatu yang bersifat produktif, sehingga tidak hanya menjadi perkembangan yang semu. Kalau diterapkan secara luas, koperasi syariah memiliki dampak yang sangat positif terhadap pertumbuhan ekonomi, menguntungkan usaha kecil dan  menengah. Meskipun masih banyak kendala dan hambatan, seperti kendala sumber daya manusia, masalah terbatasnya jaringan dan sebagainya. Penghimpunan modal yang bentuknya simpanan, kalau simpanan pokok dan wajib sesungguhnya memang menjadi modal dasar, dengan simpanan sukarela sesungguhnya masih dapat diambil. Penghimpunan modal semacam ini, menyebabkan koperasi syariah dapat tumbuh berkembang dan menjadi besar. Berawal dari Penghimpunan modal awal dan dari dana tersebut koperasi bisa bergerak.
Bagi pengurus koperasi, kapan terjadi tantangan yang semakin berat? Pengguliran pembiayaan syariah dengan berbagai akadnya, terkadang terkendala kemacetan dan ketidaksadaran dalam pemenuhan kewajiban setelah haknya diberikan. Apakah kenaikan harga berekses pada efisiensi energi penggerak usaha koperasi? Mungkinkah dapat melayani dan mengejar target pemasaran apabila usaha koperasi hanya menggunakan sarana dan fasilitas yang kurang memadai? Bukankah, sukralewan yang mendukung pengelolaan koperasi tak banyak, sehingga perlu mempekerjakan dari luar anggota? Bukankah, hempasan badai dan tingginya persaingan ekonomi pasar bebas, tak urung sering menggagalkan niat untuk meneruskan gerak perputaran usaha koperasi? Nantinya, bahan pertanyaan itu akan mengangkat pertanyaan lanjutan yang berujung pada sebuah titik pengakuan. Sepertinya, ‘ternyata pengurus dan pengelola koperasi punya kesulitan menjual dan memasarkan usahanya’.  Kira-kira seperti itulah kalimatnya. Ada sisi pengakuan yang mempertegas keberadaan kehidupan usaha koperasi yang masih kecil, seolah termarjinalkan dalam ikatan sosial.
Walaupun banyak kendala dan hambatan, pengurus dan pengelola koperasi dengan gigih mendedikasikan lembaga ini bukan semata-mata untuk mencari keuntungan pribadi, akan tetapi semua yang mendirikan, mengurus dan mengelola koperasi yang semata-mata diantaranya untuk mengenalkan lembaga keuangan mikro syariah di masyarakat, menjadi alternatif pembiayaan, mengurangi beban masyarakat yang terjerat rentenir, dan ternyata mereka berlomba-lomba dalam melakukan kebaikan. Kalaupun pengurus  mendapatkan gaji, itu semata-mata karena mereka bekerja untuk mendapatkan upah yang halal. Tentunya pengurus sangat hati-hati dalam mengelola dana, infaq dan kepercayaan dari anggota, karena bagaimanapun mereka diawasi oleh Allah subhanahu wa ta’ala Zat yang Maha Mengetahui.
Perkembangan usaha koperasi syariah dan yang tidak syariah di Indonesia semakin marak dengan segala pasang surutnya, kompleknya masalah yang dihadapi dan ditanggulangi. Peran koperasi, kini kian melangkah maju di berbagai bidang usaha, bahkan semakin memperkuat kedudukan dalam pembangunan. Landasan berpijak yang dipergunakan tentu saja pada nilai social capital sebagai spirit koperasi yang peduli terhadap lingkungan secara umum, selaras dan serasi dengan nilai ekonomi kerakyatan.
Kita harus optimis suatu saat koperasi akan dapat menjadi salah satu tulang punggung perekonomian di Indonesia, apalagi mayoritas penduduk negara ini adalah sektor informal. Dukungan untuk pengembangan koperasi masih sangat diperlukan, dengan membuat regulasi yang akan lebih memperkuat keberadaan koperasi di Indonesia. Menilik betapa marak pertumbuhan dan perkembangan koperasi yang ada di Indonesia dipastikan mampu mendukung perekonomian bangsa, khususnya perekonomian rakyat.
Berbagai program peningkatan kesejahteraan  telah menjadi perhatian utama pemerintah untuk mensejahterakan rakyat dan membantu peningkatan usaha melalui koperasi syariah maupun koperasi bukan syariah. Tetapi mengapa koperasi belum juga memasyarakat?  Kondisi program kegiatan koperasi masih banyak yang tak saling mendukung dengan sektor atau program kegiatan lainnya, tidak sinkron dan kurang terpadu!  Masyarakat  yang berkoperasi hingga saat ini seolah, masih berusaha sendirian dan terpinggirkan dari keramaian pasar bebas, terutama pemodal kuat dan minimnya jaringan pemasaran.
Minimnya dukungan program kegiatan dan sektor lain, serta minimnya jaringan pemasaran yang jauh dari kelancaran usaha berkoperasi, menyebabkan arus materi dan energi dikuasai oleh para tengkulak dengan pangsa pasar yang bermodal kuat. Terjadilah eksploitasi hasil produksi dari koperasi yang berawal dari usaha kecil yang lemah oleh jaringan pemilik modal yang kuat. Mengacu pernyataan Soemarwoto (2004) “Sebuah dalil ekologi menyatakan ekosistem yang kuat menguasai arus informasi sehingga arus materi dan energi-pun dikuasai oleh ekosistem yang kuat”. Dengan demikian, usaha koperasi mempunyai dua fungsi. Pertama, fungsi membangun koperasi dan kedua, fungsi pemasaran. Fungsi kedua sebagai energi untuk strategi pemasaran sering kali tidak kita sadari dan tidak disiasati dalam usaha berkoperasi. Akibatnya, kesenjangan antara usaha kapitalis dan usaha bersama koperasi semakin lebar. Terjadinya eksploitasi  hasil usaha kecil koperasi oleh kekuatan pemilik modal, sehingga menjadikan ‘panji-panji’ koperasi  sepertinya enggan untuk berkembang lagi. Artinya, usaha bersama yang dirintis melalui koperasi yang semula untuk mencari keuntungan, karena tak sesuai antara perolehan penghasilan dan jerih payah yang diupayakan, semangatnya semakin melemah. Sesungguhnya, dalam kehidupan berkoperasi antara kaya dan miskin tak dapat berdiri sendiri-sendiri, melainkan selalu ada saling ketergantungan. Orang miskin tergantung pada orang kaya untuk modal, teknologi, pemasaran hasil usaha, produksi dan lain-lain. Orang kaya tergantung pada orang miskin untuk bahan pangan, tenaga kerja dan lain-lain. Padahal, potensi berkoperasi dapat dikembangkan di masa kini dan mendatang, dimana muaranya jelas untuk kesejahteraan para anggota beserta masyarakatnya.
Untuk mengatasi masalah ini kita harus menyadari adanya fungsi kesejahteraan hubungan yang kaya dan yang miskin, serta-merta mengambil langkah untuk meminimalkan fungsi ini. Demokratisasi pengambilan keputusan kebijakan harus dikembangkan dengan memberi  kesempatan kepada kehidupan berkoperasi untuk ikut  mengambil keputusan dengan kearifan lokal. Dengan tindakan preventif ini, bagi usaha koperasi yang masih termarginalkan akan terangkat kehidupannya. Terjadinya kesetaraan yang kaya dan yang miskin di dekatnya, sesungguhnya masih dapat dibangun semangat berkoperasi.  Adanya kemitraan bagi kaya dan miskin secara adil dan merata dalam kehidupan berkoperasi, tentu dapat menumbuhkan sinergi antara keduanya.
Dilema kehidupan berkoperasi yang umumnya dihadapi pengurus dan pengelola, dimanapun masih terus diperjuangkan dengan segenap energi terobosan. Untuk membangun koperasi yang dapat mensejahterakan anggotanya perlu dibangun hubungan antara kesadaran dan rasa memiliki bersama-sama usaha koperasi. Hubungan itu bersifat fisik maupun non-fisik. Tetapi kita tidak menyadari bahwa hubungan itu mempunyai dua fungsi. Pertama, fungsi pembangunan koperasi. Kedua, ialah fungsi kesejahteraan. Ini tidak kita ketahui dan tidak kita sadari. Akibatnya fungsi ini kita abaikan. Akibat selanjutnya ialah fungsi ini tidak terkendalikan. Walaupun ada koperasi yang mengalami kemajuan, tetapi karena laju pertumbuhannya lebih kecil dari laju pertumbuhan keanggotaan, untuk menjaga kesenjangan antara yang kaya dan miskin, tidak perlu koperasi semacam ini melemah atau gulung tikar.

Koperasi Sumber Kehidupan.
Apabila setetes air saja dapat menjadi sumber kehidupan, tentunya koperasi yang mempunyai modal bersama merupakan sumber kehidupan yang tidak hanya untuk satu atau beberapa anggota saja? Kenapa kita tidak berani mengandalkan kehidupan dari hasil keberadaan usaha koperasi? Apakah karena tidak terbiasa, atau karena takut akan bahaya bila berada di tengah percaturan ekonomi konglomerat yang semakin merajalela ? Padahal, hasil usaha dengan segala perjuangan pengurus dan pengelola koperasi merupakan persediaan yang tak habis-habisnya bila diusahakan dan dimanfaatkan secara benar. Mengapa usaha kecil yang mengandalkan kehidupan di pasar tradisional tak seberuntung pengusaha modern di supermarket?  Simak saja, apakah jejaring penghasil usaha ekonomi, penjaja dan tengkulak serta penikmat telah terikat mata rantainya secara kokoh, kukuh, dan kuat berhubungan sehingga terjadi kesalingtergatungan yang sinergis? Alangkah tidak saling menguntungkannya, apabila tak terjadi hubungan timbal-balik yang saling ketergantungan.
Bagaimana cara memaksimalkan penggunaan sumber daya manusia dan modal usaha supaya dapat membuka peluang usaha dan peluang kerja di lembaga koperasi? Upaya pengkaderan, mengajak anak dan remaja sebagai generasi penerus untuk mencintai usaha bersama di koperasi, perlu didukung kebijakan terpadu koperasi dengan program, kegiatan dan sektor lain. Untuk itu, berbagai program kegiatan dan kebijakan hasil koperasi perlu ditunjang dengan sistem pengelolaan koperasi secara terpadu. Perlu ada kerja sama antar sektor yang saling berkaitan dalam pengelolaan koperasi.
Agar usaha koperasi dapat tumbuh subur berkelanjutan, maka modal alam, sejarah dan budaya yang menjadi modal dasar berkoperasi haruslah dipelihara dan dijaga, sehingga pembangunan koperasi yang berkelanjutan harus diselenggarakan dengan prinsip pencagaran sebagai landasan utama. Dengan lain perkataan pembangunan koperasi harus dilakukan dengan ramah lingkungan hidup.
Mengacu masa kejayaan kehidupan berkoperasi pendahulu kita, mungkinkah kita sebagai generasi penerus mampu dan mau menaruh minat pada kehidupan berkoperasi? Mungkinkah kelak dapat kita kembangkan usaha koperasi dengan tetap mempertimbangkan keseimbangan serta kelestariannya? Hal ini cukup beralasan apabila kita pelajari serta diminati, karena ternyata Indonesia memang sebagai negara kesatuan yang memiliki wilayah yang luas dan kekayaan alam yang melimpah, tentu dapat dibudidayakan melalui usaha koperasi. Tak ayal lagi, sebenarnya beberapa lapisan masyarakat secara sadar maupun tidak sadar telah menggantungkan kehidupan mereka pada hasil usaha koperasi.
Pengembangan budidaya sumberdaya alam, jika dikembangkan secara maksimal dapat memicu masyarakat secara kooperatif untuk hidup lebih sehat sejahtera. Keberadaan pengolahan  koperasi secara lebih luas sudah sangat diperlukan para usaha kecil dan menengah, agar segera dapat memiliki nilai tambah yang tinggi bagi komunitas masyarakat secara koperasi. Upaya terobosan, inovasi teknologi dan lancarnya arus informasi bagi koperasi, tak lain dan tak bukan muaranya untuk membangun ekonomi kerakyatan yang lebih optimal.
Kekayaan potensi usaha kecil rumah tangga baru dikemas dalam format terbatas, belum untuk jualan. Hasil usaha produksi yang ada belum terjual optimal, potensi usaha dan produksi kerakyatan yang ada dijual dalam format dan kemasan apa adanya. Penjualan dari hasil jerih payah industri rumah tangga yang gigih pada umumnya tidak dilakukan secara terstruktur, tetapi secara terlepas-lepas. Bagaimana menjualnya, dapat distrukturkan dalam satu manajemen dengan kerangka yang merupakan satuan komunitas manajemen berkoperasi. Lain halnya, apabila prinsip layanan dilakukan dengan dasar menghasilkan kembalinya biaya produksi untuk layanan usaha koperasi yang lebih baik. Seleksi alami akan dilalui oleh usaha kecil dan menengah. Usaha yang tidak sesuai dalam kerjasama berkoperasi itu akan terpinggirkan. Kelangsungan hidup usaha bukan lagi kelangsungan hidup yang terkuat, melainkan kelangsungan hidup yang paling sesuai. Jadi yang dapat menjaga kelangsungan hidupnya  bukanlah yang mempunyai daya saing tertinggi dan dapat menyingkirkan lawannya, melainkan yang dapat menjalin kerjasama yang serasi dengan komponen lain di lingkungan mitra dan anggota koperasi.
Semoga kelak, gerakan koperasi mendatang menjadi akar perekonomian rakyat dan dapat berjalan lebih baik lagi, walaupun diliputi berbagai kendala dan halangan. Koperasi sebagai organisasi ekonomi berbasis orang atau keanggotaan, akan menjadi gerakan ekonomi rakyat serta ikut membangun tatanan perekonomian nasional. Bermodal ‘semangat berkoperasi’ yang menjulang tinggi di setiap lini perekonomian rakyat dan usaha kecil serta menengah dapat menjadi panji kemenangan bagi kesejahteraan rakyat dalam mengatasi krisis ekonomi, koperasi akan selalu kukuh kuat bila saling terberdayakan dalam ‘kerjasama yang serasi. Etos kerja pengurus dan pengelola koperasi kelak akan mampu dan berhasil, karena mereka menjalani kehidupan berkoperasi di sini bukan untuk sekedar penyambung hidup, tapi lebih untuk meneruskan generasi yang lebih bermutu dan berkualitas.
Tulisan ini tidak bermaksud memberikan solusi akhir.  Masalahnya, keyakinan pengurus dan pengelola koperasi yang masih bergulat dengan membangun koperasi membangun negeri harus terus-menerus didiskusikan, ada perbaikan nasib dan kesejahteraan serta berkelanjutan. Ternyata ada dua fungsi dalam mensejahterakan masyarakat, yakni semangat berkoperasi dan semangat untuk kerjasama yang serasi. Pengalaman menunjukkan fungsi kedua, yaitu fungsi kerjasama yang serasi tidak dapat diabaikan. Kita harus menyadari fungsi kedua ini, mendiskusikannya dan berusaha untuk berkomitmen bersama bahwa koperasi yang kuat dapat mensejahterakan rakyat.
Yogyakarta, 27 September  2011
 Penulis,

Winner Indi Manega
Klas XII SBI 1, SMA MUHAMMADIYAH 1 Yogyakarta
Nomor Induk 17820
Bahan Bacaan:
            Soemarwoto Otto. 2004. “Problematik Pelik Pembangunan Kesetaraan Desa – Kota” Yayasan Agenda 21. Bandung.

Kamis, 10 Februari 2011

KESINAMBUNGAN PERJUANGAN MUSEUM BENTENG VREDEBURG

KESINAMBUNGAN PERJUANGAN MUSEUM BENTENG VREDEBURG
Oleh : WinnerIndiManega

Pertama kali yang terlintas di benak kita tentang museum adalah peristiwa sejarah yang pernah terjadi di seputar museum itu, atau bahkan tepat di dalam museum itu. Kebanyakan orang malas pergi ke museum karena mengira museum merupakan benda mati yang usang dan angker, serta sebagai tempat yang membosankan. Itu semua adalah wajar, ketika kita belum mengetahui apa manfaat dan fungsi museum yang sesungguhnya. Fungsi museum sekarang bukan hanya untuk mempelajari sejarah yang terjadi pada jaman dahulu saja, tapi telah berkembang tidak hanya sebagai tempat untuk mengoleksi barang antik saja. Justru, museum dapat untuk menimba ilmu!
Awal mula, kukenal Museum Benteng Vredeburg ketika melihat adanya kegiatan lomba rally foto dan foto model yang diselenggarakan di seputar taman bangunan tua tersebut. Untuk kedua kalinya kukenal museum karena adanya pameran pembangunan dan berikutnya karena adanya festival dan pentas seni. Seirama dengan perkembangan museum pada masa kini, setiap ada kegiatan yang mengundang daya tarik pengunjung selalu diikuti maraknya usaha kecil yang dapat membuka peluang kerja seperti adanya parkir, pedagang kaki lima, dan pedagang asongan, Bagi anak-anak llsia remaja, seperti saya, dapat saja terjebak karena minimnya pengetahuan tentang keberadaan Benteng Vredeburg seolah hanya tempat perlombaan rally foto dan foto model atau pameran saja.
Gambaran di benaku ketika kecil melihat Benteng Vredeburg hanyalah sosok bangunan tua dengan taman indah untuk kegiatan lomba foto model bagi gadis-gadis cantik yang diserbu fotographer. Mcnjelang remaja, akankah sebersit ingatanku itu mampu menggugah rasa keingintahuanku tentang misteri bangunan tua berdinding tembok tebal di pusat kota Yogyakarta? Ternyata, bangunan tua dengan taman yang asri tersebut merupakan sosok museum yang kekar dan terkenal keberadaannya sebagai Benteng Vredeburg yang penuh makna sejarah perjuangan melawan penjajahan. Kekokohan dan kekekaran Benteng Vredeburg seolah tak lekang oleh angin, tak lapuk oleh hujan dan tak tergoyahkan oleh gempa tektonik yang telah menghempas kota Yogyakarta. Cerminan kekokohan Benteng Vredeburg ini patut ditangkap nilainya untuk dijiwai sebagai kepribadian yang kokoh, kukuh dan kuat dalam memperjuangkan gerak langkah pasti guna menapaki serta mengisi kemerdekaan Indonesia.

Ada Apa dengan Benteng Vredeburg?
Sejak dibangunnya kota Yogyakarta, semakin kuat pengaruh kekuasaan Belanda. Seirama berkembangnya ekonomi terdapat pula peninggalan gedung-gedung
Belanda, salah satunya yaitu Benteng Vredeburg. Penting bagi kita sebagai generasi muda untuk menangguk sumber informasi dari berbagai bidang ilmu di museum. Lebih menarik lagi jika. kita menyimak, ada apa di balik sejarah, perkembangan dan pemanfaatan museum? Pada saatnya, decak kekaguman masa lalu pasti akan muncul pada masa kini, mengingat uletnya perjuangan melawan penjajah dan tentu saja pengalaman getir perebutan kekuasaan akan berguna bagi kemajuan generasi ke generasi masa mendatang untuk memperkokohjati diri bangsa.
Konon menurut sejarah dalam Buku Panduan Museum Benteng Vredeburg Yogyakarta (2003), Benteng Vredeburg dibangun pada tahun 1760 saat masa pemerintahan Sultan Hamengku Buwono I, mulanya bemama "Benteng Peristirahatan" kemudian mengalarni perubahan nama menjadi "Benteng Perdamaian". Kini benteng perdamaian tersebut lebih dikenal de;tgap.sebutan sebagai Museum Benteng Yogyakarta.
Kondisi semula, memang fungsi Benteng Vredeburg merupakan tempat peristirahatan
kemudian menjadi bentuk benteng pertahanan bagi VOC (Belanda). Betapa gigihnya perjuangan para pahlawan, jika mengingat masa penjajahan yang diwamai perebutan kekuasaan antar penjajah, yaitu Belanda, Inggris, dan Jepang. Betapa susah kehidupan saat itu, jika sering terjadi pemerasan dan kekejaman oleh penjajah yang tentu memiliki watak dan kekejaman yang berbeda. Para penjajah dari bangsa yang berbeda, tetapi semuanya selalu menambah kesengsaraan dan gugurnya pahlawan kita di medan laga.
Mengacu buku Panduan Museum Benteng Vredeburg Yogyakarta (2003) saat tampuk kekuasaan penjajahan Belanda dipegang Gubemur Daendels, untuk sementara waktu tahun 1811- 1816 Benteng Vredeburg sempat dikuasai Inggris di bawah pimpinan Gubemur Jenderal Rafles. Perebutan kekuasaan penjajahan semakin terasa lebih bengis bagi bangsa kita, saat Museum Benteng Vredeburg dikuasai Jepang setelah penyerahan Belanda kepada Jepang tahun 1942. Akhir kekuasaan Jepang ditandai dengan Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945 yang ditandai dengan berkibamya bendera merah putih dan pelucutan senjata milik Jepang.
Benteng Vredeburg, sebagai benteng pertahanan, kini pada masa kemerdekaan sangat kontras keberadaannya dengan Gedung Agung yang dibangun persis lurns di depannya di seberang jalan. Sebagai museum perjuangan, Gedung Agung yang berfungsi sebagai Istana Presiden sekaligus sf.bagai wisma untuk tamu negara juga mempunyai nilai sejarah yang tinggi dalam Sejarah Republik Indonesia. Bila kugagas lebih lanjut, apakah seyogyanya Gedung Agung yang masih berfungsi dengan baik ini dapat dijadikan sebuah museum perjuangan periode 1945-1949 ?
Tepat pada masa Agresi Militer Belanda ke dua tanggal 19 Desemb~r 1948, menurut Suharjo (2003) Museum Benteng Vredeburg menjadi sasaran empuk bom pesawat Belanda. Setela..'lMaguwo jatuh, tentara Belanda pimpinan Kolonel Van Langen berhasil menguasai kota Yogyakarta, termasuk Benteng Vredeburg. Selanjutnya Benteng Vredeburg digunakan sebagai markas dinas rahasia tentara Belanda. Benteng Vredeburg juga digunakan untuk asrama prajurit dan tempat menyimpan senjata berat. Selang beberapa waktu kemudian, tanggal 27 Desember 1949 diadakanlah Xonferensi Meja Bundar dengan hasil BeJand2.mengakui kedaulatan Republik Indonesia dalam bentuk Republik Indonesia Serikat.
Setelah Belanda meninggalkan Yogyakarta, terjadi peristiwa Yogya Kembalj
tepat 29 Juni 1949 ke pangkuaan ibu pertiwi dengan bukti Benteng Vredeburg dikuasai
Angkatan Perang Republik Indonesia. Terjadinya gejolak pemberontakan politik oleh
Partai Komunis Indonesia pada tahun 1965, Benteng Vredeburg pernah digunakan
sebagai tempat tahanan politik Gerakan 30 September oleh PKI.
Komplek bangunan beuteng pernah digunakan sebagai ajang jambore pramuka
pada tahun 1978. Selanjutnya benteng digunakan untuk Pendidikan dan latihan Dodiklat POLRI. Juga pernah Benteng Vredeburg digunakan sebagai markas Garnizun 072,
markas TNI Angkatan Darat, dan markas Batalyon 043. Agar generasi mendatang selalu mempunyai semangat juang yng tinggi, maka di tahun 1985 Benteng Vredeburg telah diperkenalkan menjadi "Museum Perjuangan" yang dapat dikunjungi oleh semua lapisan masyarakat dan turis asing. Nama tcrkini museum dalam leaflet menjadi "Museum Khusus Perjuangan Nasional" dengal1 sevutan "Museum Benteng Vredevurg Yogyakarta".
Benteng yang berbentuk segi empat ini berdiding tembok tebal dan tinggi yang dahulunya dilengkapi selokan di bagian luamya untuk pertahanan. Benteng memiliki menara pengawas di keempat sudutnya, dilengkapi kubu untuk berjalan berkeliling sambil berjaga-jaga mengintai musuh. Bagian dalam benteng terdapat bangunan tempat tinggal komandan, perwira dan barak prajurit. Dalam rangka untuk mengingat sejarah perjuangan masa lalu, museum telah diisi berbagai koleksi sejarah perjuangan, baik berupa benda asli, dokumen foto, lukisan, buku dan diorama yang bemuansa perjuangan nasional. Kelengkapan museum beserta koleksinya tersebut berguna sebagai media informasi dan komunikasi yang berkesinambunga..l antar generasi pada masa lampau, masa kini dan mendatang.
Jejak langkah yang merunut bukti sejarah tersebut, mampu menguak misteri peninggalan bangunan tua Museum Benteng Vredeburg Yogyakarta yang mempunyai
arti penting dari segi pendidikan sejarah, kebudayaan, ilmu pengetahuan, tek.lologi, ekonomi dan pendidikan. Namun, bila pada masa kini, keberadaan museum lebih menonjolkan aspek ekonomi yang cencerung mendesak aspek kebudayaan dan ilmu
pengetahuan, maka ekses pencagaran dan pemugarannya pasti akan tertinggal. Padahal aspek ekonomi peninggalan sejarah bertumpu pada nilai sejarah, budaya dan ilmiah peninggalan itu. Apabila ketiga aspek ini terabaikan atau dilakubm dengan tidak
memadai, nilai ekonominya-pun cepat atau lambat akan memudar. Museum Benteng Vredeburg Yogyakarta mempunyai beragam daya tarik pariwisata besar. Adanya pencagaran gedung tradisional Benteng Vredeburg juga mempunyai nilai ekonomi yang tinggi.
Sejarah singkat ini menunjukkan peranan Yogyakarta dan pimpinannya, terutama Sultan Hamengku Buwono IX, dalam perjuangan untuk kemerdekaan dan melanjutkan
peranannya sebagai kota pendidikan dengan masyarakat pelajar dan mahasiswa yang
berasal dari pelbagai pelosok Indonesia untuk menangguk ilmu, mulai dari sekolah menengah sampai perguruan tinggi. Tidaklah berlebihan untuk mengatakan bahwa Yogyakarta telah memegang peran yang penting demi tumbuhnya nasionalisme yang
melebur ke berbagai suku bangsa Indonesia menjadi Bangsa Indonesia seutuhnya Tak ayallagi, keberadaan Museum Benteng Vredeburg Yogyakarta sebagai bukti sejarah masa lampau dapat menjadi pengobar semangat peIjuangan dalam menggalang persatuan pada saat bangsa Indonesia sedang mengalami krisis persatuan antar suku dan golongan. Pemah dipajang pada ruang pameran di Museum Benteng Vredeburg Yogyakarta suatu monumen replika Tugu "Golong-Gilig", sebagai miniatur bangunan tugu yang mempunyai nilai lebih tinggi dibanding keberadaan Tugu "Pal Putih" di pusat kota Yogyakarta yang saat ini bercokol berdiri tegak. Memang, hampir bersamaan dibangunnya Benteng Vredeburg dan Tugu Golong-Gilig, yaitu pada saat Pangeran Mangkubumi menjadi Sultan Hamengku Buwono I ketika bertahta di singgasana Kerajaan Mataram. Tugu Golong-Gilig bertiang kerucut dengan sebuah bola di puncaknya, pada masa lampau sebagai simbol bersatunya rakyat dengan raja dalam perjuangan melawan Belanda (Soemarwoto, 2003).
Sejarah singkat ini mampu menunjukkan kesinambungan perjuangan Kasultanan Yogyakarta melawan penjajahan, baik pada permulaan didirikannya Kasultanan dan pada saat pemyataan Yogyakarta sebagai bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia. Membaca surat khabar belum lama ini, pelayanan dengan menjemput bola ke pelosok telah mulai dirintis dengan promosi tentang manfaat dan pentingnya mengunjungi museum. Artinya, kunci menjaga persatuan d'ID semangat juang telah dirintis dengan pelayanan terbaik kepada khalayak. Keseimbangan diperlukan antara kesiapan pelayanan yang baik, koleksi dan atraksi museum yang perlu di~bgkatkan, diikuti peningkatan kenyamanan pengunjung mliseum. Pemanfaatan teknologi jan informasi yang meningkat akan menambah pula daya tarik tersendiri.
Tak pelak lagi, nilai perjuangan sejarah museum sebagai pengobar semangat juang, museum juga sebagai sumber ilmu pengetahuan dan teknologi, tempat pembinaan dan pengembangan sejarah, sehingga berguna sebagai alat pemersatu dalam memerangi kebodohan dan kemiskinan. Bermodal semangat dan pekik peIjuangan para pahlawan yang dapat menggetarkan hati, sebenamya manfaat museum dapat menumbuhkan rasa kebangsaan dan cinta tanah air. Kita semua generasi muda penerus semangat juang untuk mengisi kemerdekaan dapat menimba ilmu dari keberadaan museum. Sosok bangunan Museum Benteng Vredeburg Yogyakarta selain sebagai benda cagar budaya yang dilindungi Undang-undang,juga merupakan wujud pelestarian ragam kebudayaan masa lampau yang dapat dipergunakan untuk mengobarkan 'genta' perjuangan masa kini dan masa mendatang. Harapannya akan terbangun rasa memiliki pada masyarakat yang dapat menumbuhkan semangat persatuan atau "golong-gilig" yaitu simbol persatuan dalam mengisi kemerdekaan. Mari bersama-sama, dengan bermodal semangat kemerdekaan kita tingkatkan prestasi dan kepribadian untuk masa depan bangsa!. Mari, kita sebagai pewaris nilai perjuangan dan kepahlawanan, bersama-sama melestarikan budaya dan sejarah, agar generasi muda pada masa sekarang dan generasi selanjutnya tidak buta terhadap kekayaan budaya dan sejarah perjuangan bangsa Indonesia di masa lalu.

Yogyakarta, 15 September 2006

(Winner Indi Manega)
Siswi SMPN IV Yogyakarta
Nomor Induk : 2040, Nomor Absensi : 36


Bahan Bacaan:
"Buletin Museum Benteng Vredeburg Yogyakarta Volume 5, Nomor 9, Juni 2004"
Kementrian Kebudayaan dan Pariwisata, Museum Benteng Vredeburg, Yogyakarta.
"Leaflet Museum Benteng Vredeburg Yogyakarta", Tanpa Tahun. Kementrian
Kebudayaan dan Pariwisata, Museum Benieng Vredeburg Yogyakarta.
Suharjo dkk, 2003. "Buku Panduan Museum Bent~ng Vredeburg Yogyakarta",
Kementrian Kebudayaan dan Pariwisata, Museum Benteng Vredeburg, Yogyakarta.
Soemarwoto Otto, 2003. "Menuju Jogja fropinsi Ramah Lingkungan Hidup Agenda 21
Pembangunan Pariwisata Berkelanjutan Daerah Istimewa Yogyakarta", Kantor Pemda DIY, Kepatihan, Danurejan, Yogyakarta.
Website Internet Benteng Vredeburg, Situs: www.gudeg.net (Gudang Info Kota Jogja)
dan www.jogjakartatheresikcity.net


Penulis:

Winner Indi Manega;