By: Winner Indi Manega
Gencarnya arus perubahan yang terus menuntut
lebih terbuka, adil, merata, demokratis dan memihak rakyat kecil semakin terasa
seiring dengan merambahnya perubahan peluang pasar bebas bagi usaha rancang bangun
konstruksi dan tuntutan mengatasi pemanasan global yang tak dapat ditunda.
Bersatunya penentu kebijakan dan profesional ahli bangunan bersama pekerja yang
mumpuni, mengerti dan memahami untuk membela nasib buruh bangunan serta
bersikap ramah lingkungan perlu disiapkan sejak dini dan terus-menerus. Tak
ayal lagi, siapa yang dicari kalau bukan kandidat pelaku rancang bangun
konstruksi yang berkapasitas dan kompetitif, lebih peduli dengan nasib si
buruh, dapat membuka peluang kerja, mengedepankan kaum wanita, mampu berdaya
saing dan pandai menjaga keseimbangan lingkungan.
Mengapa seolah tak ada profesional
ahli bangunan yang loyal, merancang dan membangun konstruksi secara andal, bisa
arif menjaga kelestarian alam secara bersamaan dapat meningkatkan kesejahteraan?
Tak ada yang mempunyai pandangan jangka panjang, melainkan “oportunistik”
mencari keuntungan sesaat bagi golongan dan dirinya. Tak ada yang berpihak pada
rakyat miskin. Rakyat hanya digunakan sebagai slogan melulu. Untuk itu, pemupukan
jiwa profesi ahli rancang bangun sejak dini perlu dilakukan segera, artinya
peran pendidikan dan orang tua menjadi utama untuk mengisi kandidat pelaku
rancang bangun konstruksi yang unggul mampu berpihak pada rakyat dan
melestarikan lingkungan.
Semangat dan komitmen yang
tinggi terhadap kewajibannya, tidak meninggalkan jati-dirinya sebagai seorang profesional,
bertakwa kepada Tuhan dan mempunyai rasa tanggung jawab yang tinggi terhadap
kewajibannya. Berani mengambil keputusan yang benar, pandai menyampaikan amanah
yang diemban pada khalayak. Tak gentar akan derasnya cercaan dan cobaan serta
mampu mengatasi berbagai masalah maupun bencana yang tak kunjung henti secara
arif dan bijaksana. Tumpuannya pada estafet sumber daya manusia yang kreatif,
jujur, amanah, berkemampuan sesuai dengan kompetensi dan kapasitasnya, serta
beretos kerja gigih untuk mampu bersaing. Sifat itu dapat terlaksana apabila
ada idealisme, komitmen yang tinggi, integritas moral dan nurani yang bersih
pada pelaku rancang bangun konstruksi. Hanya dengan sumber daya manusia yang
demikian akan dapat terlaksana munculnya penentu kebijakan, pembuat regulasi
yang bijak dan profesi ahli rancang bangun konstruksi yang dapat memikirkan
pekerja dan buruh bangunan. Kenapa profesionalisme keahlian rancang bangun
konstruksi menjadi penting? Hal ini disebabkan, karena dengan keahlian yang
kompeten sesuai kapasitasnya dapat menghimpun potensi kekuatan merancang dan
membangun bangunan gedung secara lebih andal dan berkelanjutan.
Anak muda harus berani
menjanjikan masa depan yang dinamis dan maju. Dicari anak muda, berbakat,
kreatif, jujur dan bermoral sebagai kandidat yang menunjukkan komitmennya meneguhkan kemauan dan kemampuan profesi
rancang bangun yang kelak untuk rakyat dengan hasil yang nyata bangunan lebih
andal. Bukan hanya kandidat yang hanya pandai membangun sekaligus merusak
lingkungan demi keuntungannya, melainkan kandidat pelaku rancang bangun masa
depan, yang dituntut mampu membangun keandalan bangunan secara berkelanjutan. Pelaku
rancang bangun berawal dari pemasok material, pekerja, tenaga ahli, pengusaha,
pemilik bangunan hingga penentu kebijakan. Manusia memproduksi material dari bahan baku yang berasal dari alam,
lebih lanjut mengacu pernyataan Harjanto (2003), agar ramah lingkungan eko
material prosesnya menggunakan teknologi yang ada maupun baru, untuk
selanjutnya digunakan untuk memenuhi keperluan hidup serta dalam rangka
peningkatan kenyamanan.
Daur
proses rancang bangun konstruksi sudah seyogyanya mampu menjawab kerusakan
lingkungan yang kian parah, mampu menghadirkan konstruksi bangunan gedung yang andal,
kokoh, kukuh kuat, aman, nyaman, asri dan lestari. Bangunan gedung yang andal sudah
selayaknya tak lekang oleh panas, tak goyah oleh angin, tak lapuk oleh hujan; dan
tak ayal lagi, dapat menyatu dengan alam serta mudah hancur di telan alam. Di
tengah-tengah perubahan iklim, ganasnya pemanasan global, semakin parahnya kerusakan
lingkungan, disertai keterbatasan sumberdaya dan energi, maka kegiatan rancang
bangun konstruksi seharusnya mampu memberi kontribusi bagi upaya mitigasi hal
tersebut.
Keseluruhan
bangunan gedung yang andal harus dilakukan secara profesional melalui proses
yang memenuhi kaidah keteknikan secara baik. Disajikan secara utuh dan harus menunjukkan
kekokokan, keawetan, keutuhan fungsi, memenuhi estetika dan aman bagi pemakai.
Hasil akhir akan memberi nilai tambah bagi kesejahteraan masyarakat. Mampu
menghasilkan kineja pengusaha rancang bangun konstruksi yang utuh di semua
aspek, baik pada posisi perencanaan, pelaksanaan maupun pengawasan. Lebih andal
lagi, konstruksi bangunan gedung dapat mengantisipasi setiap jenis kerawanan
daerah rawan bencana dengan mengikuti
aturan spesifikasi bangunan di daerah rawan bencana.
Fenomena
alam ini penting, menilik betapa bangunan gedung akan dapat dinyatakan memenuhi
persyaratan laik fungsi apabila telah memenuhi persyaratan teknis, sebagaimana
dimaksud dalam Bab IV undang-undang ini.” (UU 28/2002, pasal 37 (2). Untuk itu,
pemanfaatan fungsi bangunan secara optimal akan dapat terpenuhi bila seiring
dengan terpenuhinya prosedur kerja dan aturan perijinan secara benar.
Ketenangan dan kenyamanan penghunian didapat, karena keandalan bangunan secara
fisik dan non fisik terpenuhi jelas tidak bertentangan dengan norma, standard,
dan adat masyarakat. Dalam rancangan produksi rancang bangun diusahakan agar pada akhir masa
guna produk itu sebanyak mungkin komponen produk dapat didaur-guna dan
didaur-ulang. Dengan demikian produk desain bangunan gedung menghasilkan
buangan atau limbah yang minimum pada waktu masa gunanya habis. Di samping itu
desainer juga merancang produk bangunan gedung yang mempunyai masa guna yang
panjang. Desainer dapat menjadi alat dalam menciptakan pasar yang cukup untuk
produk aman lingkungan. dapat meyakinkan klien bahwa desain yang sensitif
secara lingkungan akan memperbaiki kualitas hunian dari kehidupan, kenyamanan,
dan produktivitas, juga menghemat biaya operasi.
Perancang
gedung yang sensitif secara lingkungan akan memperbaiki kualitas hunian dari
kehidupan, kenyamanan, dan produktivitas, juga menghemat biaya proses
operasi. Sepintas dalam proses berkarya
ini akan mengurangi volume tawar terhadap hasil karya. Tetapi dengan konsumen yang
makin sadar terhadap lingkungan, bangunan
gedung yang andal
mempunyai masa guna yang panjang akan semakin disukai oleh konsumen.
Proses
berkarya mempunyai implikasi dalam pemilihan jenis masukan bahan dan energi.
Pemasok bahan dan energi dipilih yang memenuhi syarat telah berusaha ramah lingkungan
dan meminimumkan arus materi dan energi. Kelihatannya
sederhana, akan tetapi mempunyai implikasi yang luas, sehingga dengan
kesederhanaan ini
mendapatkan lebih banyak materi dan energi dari sumber daya yang lebih sedikit.
Adanya
globalisasi isu dan keprihatinan lingkungan hidup yang telah merambah pula
dunia bisnis konstruski serta
usahawan bangunan gedung tidak
dapat lagi mengabaikan lingkungan hidup. Para desainer dan usahawan bangunan gedung harus bersikap ramah lingkungan. Barangsiapa
berlaku anti-lingkungan hidup akan harus membayar mahal. Masyarakat yang
menjadi konsumennya akan memilih produk lain dan cepat atau lambat daya saing
mereka akan merosot. Mereka akan kehilangan pangsa pasarnya sehingga desain dan
bisnisnya tidak lagi dapat hidup dengan berkelanjutan.
Kegiatan rancang
bangun konstruksi gedung yang bertitik tolak dari proses berkarya
desain, dimulai dengan merancang produk dengan tujuan meminimumkan kebutuhan
bahan dan energi, maupun terbentuknya limbah. Melalui pendekatan ekologi pada
masalah lingkungan hidup yang diakibatkan oleh aktivitas manusia dalam berkarya
desain perlu dikembangkan peningkatan efisiensi proses berkarya, sehingga
kebutuhan materi dan energi dapat ditekan sampai seminimal mungkin. Limbah
proses berkarya dirancang untuk sebanyak-banyaknya didaur ulang atau menjadi
produk samping bahkan dapat dipergunakan untuk karya lain.
Kuatnya
akar bangunan gedung sesungguhnya bertumpu tidak hanya memenuhi norma, standar,
pedoman dan kriteria saja, akan tetapi perlu ada serasi dan selaras seimbang dengan
habitatnya. Selain berkualitas, bermanfaat dan berkelanjutan, diharapkan dapat
memberikan nilai tambah bagi kesejahteraan, kedaulatan serta kebudayaan. Keandalan
bangunan gedung tidak hanya ditentukan kokohnya pondasi dan kukuhnya kerangka
atau kuatnya dinding penopang yang kuat, tapi juga, lingkungan dan kelengkapannya mudah dijangkau sehingga terpenuhi
rasa aman, nyaman, sehat, asri dan lestari. (Permen PU no 25/PRT/M/2007, halaman 3
sudah dimodifikasi)
Tulisan
ini tidak bermaksud untuk memberikan solusi akhir bagaimana konstruksi gedung
yang andal? Masalahnya, pelestarian alam kini lebih penting, sehingga bagaimana
pembangunan dapat menerus tetapi tidak merusak alam namun melestarikannya hingga dapat
memperbaiki sarana dan prasarana secara berkelanjutan. Ternyata ada dua fungsi
dalam membangun hubungan konstruksi dan berkelanjutan. Pengalaman menunjukkan
bahwa fungsi kedua, yaitu fungsi berkelanjutan rasa memiliki habitat tempat
tinggal kita tidak dapat diabaikan. Kita harus menyadari adanya fungsi kedua
ini, mendiskusikannya dan berusaha untuk melestarikan bumi pertiwi yang
adiluhung ini, secara asri lestari diwariskan pada generasi berikutnya.
Yogyakarta, 22
September 2012
Penulis,
(Winner Indi Manega)
Mahasiswi Jurusan Teknik Lingkungan,
Nomor Mahasiwa
12513040
Fakultas Teknik Sipil, Universitas Islam Indonesia
Pustaka:
Harjanto
Sri Eng, 2003. Ramah
Lingkungan dan Eco Material, Departemen Metalurgi dan Material, FT Universitas
Indonesia, Jakarta.
Peraturan
Menteri PU No 25/PRT/M/2007 tentang “Pedoman
Sertifikat Laik Fungsi Bangunan Gedung”
