MENGAYUH, MENGAGUMI HERITAGE JOGJA

MENGAYUH, MENGAGUMI HERITAGE JOGJA
Oleh: Winner Indi Manega


Kebiasaan naik sepeda akan membuat kita lebih sehat. Tak hanya itu, semakin banyak orang bersepeda, udara menjadi lebih bersih dan tidak bising. Begitu populernya sepeda, yang menggunakannya adalah segenap lapisan masyarakat. Mereka menggunakan untuk transpor ke sekolahan, ke pekerjaan (Sego Segawe) dan tempat belanja atau sekedar untuk rekreasi berkeliling Jogja sebagai kota heritage yang menawan. Sepeda populer di kalangan rakyat kecil, karena sepeda adalah alat transpor yang murah. Untuk menggerakkannya tidak memerlukan Bahan Bakar Minyak (BBM), melainkan cukup dengan dikayuh. Apabila penggunaan sepeda dapat dibangkitkan lagi, kemacetan lalulintas akan berkurang, efisiensi penggunaan BBM meningkat dan biaya transpor berkurang.
Sepeda merupakan alat transpor yang sehat. Untuk menggerakkannya diperlukan tenaga manusia, yaitu dengan mengayuh atau ngonthel (Bahasa Jawa). Aspek kesehatan ini diakui masyarakat luas, terutama masyarakat lapisan menengah dan atas. Mereka membeli sepeda statis yang mahal harganya. Sepeda adalah alat transpor ramah lingkungan. Pencemaran yang disebabkan olehnya hanya gas CO2 dan uap air dari pernafasan pengendaranya. Karena efisiensi penggunaan energi pada sepeda lebih tinggi daripada dengan mobil. Penggalakan penggunaan sepeda akan mempunyai dampak yang besar pada lingkungan. Tidak pula ada gas yang menyebabkan hujan asam dan gas beracun serta debu halus yang menyebabkan penyakit asma. Tidak pula ada zat pencemar logam berat yang menghambat perkembangan sistem syaraf pusat pada anak-anak. Kebiasaan bersepeda, tidak membuat generasi penerus kita mempunyai kemampuan berpikir yang lebih rendah daripada kita. Kebiasaan mengayuh sepeda, berekses menurunnya pencemaran, kesehatan akan meningkat, sehingga biaya kesehatan turun dan kehilangan hari kerja karena sakit juga turun.
Peningkatan penggunaan sepeda akan memacu industri persepedaan. Produksi banyak onderdil sepeda dapat dilakukan oleh pengusaha kecil, misalnya rem dan sadel. Jadi akan menciptakan lapangan pekerjaan. Lapangan pekerjaan juga tercipta dari perakitan dan perdagangan sepeda. Selanjutnya dengan membangkitkan wisata bersepeda di kota Jogja yang penuh peninggalan sejarah dan purbakala akan tumbuh usaha penyewaan sepeda. Membiasakan penggunaan sepeda merupakan salah satu usaha menjadikan penduduk di kota pendidikan tumbuh sehat di lingkungan udara yang semakin segar. Jogja sebagai kota sepeda akan semakin populer heritagenya untuk kegiatan eko-wisata yang memihak rakyat kecil.
Walaupun sepeda mempunyai banyak sifat yang baik, namun membiasakan penggunaan sepeda menghadapi banyak kendala. Kendala terbesar adalah budaya. Kita sangat sadar pada simbol status. Sepeda dianggap sebagai kendaraan orang miskin. Naik sepeda dianggap tidak bergengsi, kalah dari motor, apalagi mobil. Alasan lain yang sering dikemukakan tidak mau naik sepeda karena beriklim tropik. Karena itu panas dan tidak sesuai untuk bersepeda. Tetapi kita kan orang tropik yang telah teradaptasi pada iklim tropik, seharusnya sudah terbiasa dengan suhu panas. Semestinya iklim bukanlah kendala untuk bersepeda.
Kendala lain ialah pengendara sepeda tidak mempunyai hak jalan. Sedikit sekali jalur khusus untuk sepeda. Tanda jalur alternatif terdekat untuk sepeda, hanya memberikan rasa tenteram bagi pengendara karena lebih dekat mengayuhnya. Apabila telah ada jalur sepeda, perlu dilestarikan, tetapi apabila belum ada perlu diusahakan, minimal dengan garis pembatas khusus untuk orang bersepeda. Bukankah jalur lambat sering dilanggar pelawan arus, tetapi tak ada wasit yang meniup peluit. Kini sudah terlanjur pohon peneduh ditebangi untuk pelebaran jalan. Meskipun jalan aspal menjadi lebar, tapi jalur sepeda menjadi satu dengan jalur mobil dan motor. Lebih runyam lagi jalur sepeda sudah kalah dengan jalur Bus Trans Jogja dan parkir kendaraan bermotor, bahkan jalur sepeda kalah dengan kaki lima di badan jalan.
Tak dapat dihindari, kelakuan pengendara motor dan mobil yang tidak menghormati hak jalan pengguna jalan lain. Adanya tanda jalur sepeda dengan cat putih kurang menjamin keamanan pengendara sepeda. Seyogyanya dibuat pemisah jalur secara fisik atau tanaman pembatas. Perlu dikaji adanya aturan bagi pengendara mobil dan motor yang membuat cedera pengendara sepeda dikenai hukuman lebih berat. Sulitnya mencari tempat parkir sepeda yang aman di Kota Sepeda Jogja, apalagi yang disertai karcis khusus parkir sepeda. Apabila tidak ada tukang parkir yang dilengkapi parkir sepeda, amankah sepeda dirantai pada tiang yang disediakan di tengah taman kota?
Mengayuh, mengagumi Jogja sebagai kota heritage diupayakan dikembangkan dengan berbagai inovasi, agar lebih banyak penggemar naik sepeda. Membiasakan mengayuh sepeda terkandung maksud selain mendukung program langit biru, juga untuk menumbuhkan semangat dan kunjungan wisata di kota budaya Jogja.

Yogyakarta, 11 Agustus 2009
Penulis,


Winner Indi Manega
Siswi Klas X RSBI, SMA MUHI Yogyakarta
Nomor Induk 17820/Nomor Absen 31

Kamis, 10 Februari 2011

KESINAMBUNGAN PERJUANGAN MUSEUM BENTENG VREDEBURG

KESINAMBUNGAN PERJUANGAN MUSEUM BENTENG VREDEBURG
Oleh : WinnerIndiManega

Pertama kali yang terlintas di benak kita tentang museum adalah peristiwa sejarah yang pernah terjadi di seputar museum itu, atau bahkan tepat di dalam museum itu. Kebanyakan orang malas pergi ke museum karena mengira museum merupakan benda mati yang usang dan angker, serta sebagai tempat yang membosankan. Itu semua adalah wajar, ketika kita belum mengetahui apa manfaat dan fungsi museum yang sesungguhnya. Fungsi museum sekarang bukan hanya untuk mempelajari sejarah yang terjadi pada jaman dahulu saja, tapi telah berkembang tidak hanya sebagai tempat untuk mengoleksi barang antik saja. Justru, museum dapat untuk menimba ilmu!
Awal mula, kukenal Museum Benteng Vredeburg ketika melihat adanya kegiatan lomba rally foto dan foto model yang diselenggarakan di seputar taman bangunan tua tersebut. Untuk kedua kalinya kukenal museum karena adanya pameran pembangunan dan berikutnya karena adanya festival dan pentas seni. Seirama dengan perkembangan museum pada masa kini, setiap ada kegiatan yang mengundang daya tarik pengunjung selalu diikuti maraknya usaha kecil yang dapat membuka peluang kerja seperti adanya parkir, pedagang kaki lima, dan pedagang asongan, Bagi anak-anak llsia remaja, seperti saya, dapat saja terjebak karena minimnya pengetahuan tentang keberadaan Benteng Vredeburg seolah hanya tempat perlombaan rally foto dan foto model atau pameran saja.
Gambaran di benaku ketika kecil melihat Benteng Vredeburg hanyalah sosok bangunan tua dengan taman indah untuk kegiatan lomba foto model bagi gadis-gadis cantik yang diserbu fotographer. Mcnjelang remaja, akankah sebersit ingatanku itu mampu menggugah rasa keingintahuanku tentang misteri bangunan tua berdinding tembok tebal di pusat kota Yogyakarta? Ternyata, bangunan tua dengan taman yang asri tersebut merupakan sosok museum yang kekar dan terkenal keberadaannya sebagai Benteng Vredeburg yang penuh makna sejarah perjuangan melawan penjajahan. Kekokohan dan kekekaran Benteng Vredeburg seolah tak lekang oleh angin, tak lapuk oleh hujan dan tak tergoyahkan oleh gempa tektonik yang telah menghempas kota Yogyakarta. Cerminan kekokohan Benteng Vredeburg ini patut ditangkap nilainya untuk dijiwai sebagai kepribadian yang kokoh, kukuh dan kuat dalam memperjuangkan gerak langkah pasti guna menapaki serta mengisi kemerdekaan Indonesia.

Ada Apa dengan Benteng Vredeburg?
Sejak dibangunnya kota Yogyakarta, semakin kuat pengaruh kekuasaan Belanda. Seirama berkembangnya ekonomi terdapat pula peninggalan gedung-gedung
Belanda, salah satunya yaitu Benteng Vredeburg. Penting bagi kita sebagai generasi muda untuk menangguk sumber informasi dari berbagai bidang ilmu di museum. Lebih menarik lagi jika. kita menyimak, ada apa di balik sejarah, perkembangan dan pemanfaatan museum? Pada saatnya, decak kekaguman masa lalu pasti akan muncul pada masa kini, mengingat uletnya perjuangan melawan penjajah dan tentu saja pengalaman getir perebutan kekuasaan akan berguna bagi kemajuan generasi ke generasi masa mendatang untuk memperkokohjati diri bangsa.
Konon menurut sejarah dalam Buku Panduan Museum Benteng Vredeburg Yogyakarta (2003), Benteng Vredeburg dibangun pada tahun 1760 saat masa pemerintahan Sultan Hamengku Buwono I, mulanya bemama "Benteng Peristirahatan" kemudian mengalarni perubahan nama menjadi "Benteng Perdamaian". Kini benteng perdamaian tersebut lebih dikenal de;tgap.sebutan sebagai Museum Benteng Yogyakarta.
Kondisi semula, memang fungsi Benteng Vredeburg merupakan tempat peristirahatan
kemudian menjadi bentuk benteng pertahanan bagi VOC (Belanda). Betapa gigihnya perjuangan para pahlawan, jika mengingat masa penjajahan yang diwamai perebutan kekuasaan antar penjajah, yaitu Belanda, Inggris, dan Jepang. Betapa susah kehidupan saat itu, jika sering terjadi pemerasan dan kekejaman oleh penjajah yang tentu memiliki watak dan kekejaman yang berbeda. Para penjajah dari bangsa yang berbeda, tetapi semuanya selalu menambah kesengsaraan dan gugurnya pahlawan kita di medan laga.
Mengacu buku Panduan Museum Benteng Vredeburg Yogyakarta (2003) saat tampuk kekuasaan penjajahan Belanda dipegang Gubemur Daendels, untuk sementara waktu tahun 1811- 1816 Benteng Vredeburg sempat dikuasai Inggris di bawah pimpinan Gubemur Jenderal Rafles. Perebutan kekuasaan penjajahan semakin terasa lebih bengis bagi bangsa kita, saat Museum Benteng Vredeburg dikuasai Jepang setelah penyerahan Belanda kepada Jepang tahun 1942. Akhir kekuasaan Jepang ditandai dengan Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945 yang ditandai dengan berkibamya bendera merah putih dan pelucutan senjata milik Jepang.
Benteng Vredeburg, sebagai benteng pertahanan, kini pada masa kemerdekaan sangat kontras keberadaannya dengan Gedung Agung yang dibangun persis lurns di depannya di seberang jalan. Sebagai museum perjuangan, Gedung Agung yang berfungsi sebagai Istana Presiden sekaligus sf.bagai wisma untuk tamu negara juga mempunyai nilai sejarah yang tinggi dalam Sejarah Republik Indonesia. Bila kugagas lebih lanjut, apakah seyogyanya Gedung Agung yang masih berfungsi dengan baik ini dapat dijadikan sebuah museum perjuangan periode 1945-1949 ?
Tepat pada masa Agresi Militer Belanda ke dua tanggal 19 Desemb~r 1948, menurut Suharjo (2003) Museum Benteng Vredeburg menjadi sasaran empuk bom pesawat Belanda. Setela..'lMaguwo jatuh, tentara Belanda pimpinan Kolonel Van Langen berhasil menguasai kota Yogyakarta, termasuk Benteng Vredeburg. Selanjutnya Benteng Vredeburg digunakan sebagai markas dinas rahasia tentara Belanda. Benteng Vredeburg juga digunakan untuk asrama prajurit dan tempat menyimpan senjata berat. Selang beberapa waktu kemudian, tanggal 27 Desember 1949 diadakanlah Xonferensi Meja Bundar dengan hasil BeJand2.mengakui kedaulatan Republik Indonesia dalam bentuk Republik Indonesia Serikat.
Setelah Belanda meninggalkan Yogyakarta, terjadi peristiwa Yogya Kembalj
tepat 29 Juni 1949 ke pangkuaan ibu pertiwi dengan bukti Benteng Vredeburg dikuasai
Angkatan Perang Republik Indonesia. Terjadinya gejolak pemberontakan politik oleh
Partai Komunis Indonesia pada tahun 1965, Benteng Vredeburg pernah digunakan
sebagai tempat tahanan politik Gerakan 30 September oleh PKI.
Komplek bangunan beuteng pernah digunakan sebagai ajang jambore pramuka
pada tahun 1978. Selanjutnya benteng digunakan untuk Pendidikan dan latihan Dodiklat POLRI. Juga pernah Benteng Vredeburg digunakan sebagai markas Garnizun 072,
markas TNI Angkatan Darat, dan markas Batalyon 043. Agar generasi mendatang selalu mempunyai semangat juang yng tinggi, maka di tahun 1985 Benteng Vredeburg telah diperkenalkan menjadi "Museum Perjuangan" yang dapat dikunjungi oleh semua lapisan masyarakat dan turis asing. Nama tcrkini museum dalam leaflet menjadi "Museum Khusus Perjuangan Nasional" dengal1 sevutan "Museum Benteng Vredevurg Yogyakarta".
Benteng yang berbentuk segi empat ini berdiding tembok tebal dan tinggi yang dahulunya dilengkapi selokan di bagian luamya untuk pertahanan. Benteng memiliki menara pengawas di keempat sudutnya, dilengkapi kubu untuk berjalan berkeliling sambil berjaga-jaga mengintai musuh. Bagian dalam benteng terdapat bangunan tempat tinggal komandan, perwira dan barak prajurit. Dalam rangka untuk mengingat sejarah perjuangan masa lalu, museum telah diisi berbagai koleksi sejarah perjuangan, baik berupa benda asli, dokumen foto, lukisan, buku dan diorama yang bemuansa perjuangan nasional. Kelengkapan museum beserta koleksinya tersebut berguna sebagai media informasi dan komunikasi yang berkesinambunga..l antar generasi pada masa lampau, masa kini dan mendatang.
Jejak langkah yang merunut bukti sejarah tersebut, mampu menguak misteri peninggalan bangunan tua Museum Benteng Vredeburg Yogyakarta yang mempunyai
arti penting dari segi pendidikan sejarah, kebudayaan, ilmu pengetahuan, tek.lologi, ekonomi dan pendidikan. Namun, bila pada masa kini, keberadaan museum lebih menonjolkan aspek ekonomi yang cencerung mendesak aspek kebudayaan dan ilmu
pengetahuan, maka ekses pencagaran dan pemugarannya pasti akan tertinggal. Padahal aspek ekonomi peninggalan sejarah bertumpu pada nilai sejarah, budaya dan ilmiah peninggalan itu. Apabila ketiga aspek ini terabaikan atau dilakubm dengan tidak
memadai, nilai ekonominya-pun cepat atau lambat akan memudar. Museum Benteng Vredeburg Yogyakarta mempunyai beragam daya tarik pariwisata besar. Adanya pencagaran gedung tradisional Benteng Vredeburg juga mempunyai nilai ekonomi yang tinggi.
Sejarah singkat ini menunjukkan peranan Yogyakarta dan pimpinannya, terutama Sultan Hamengku Buwono IX, dalam perjuangan untuk kemerdekaan dan melanjutkan
peranannya sebagai kota pendidikan dengan masyarakat pelajar dan mahasiswa yang
berasal dari pelbagai pelosok Indonesia untuk menangguk ilmu, mulai dari sekolah menengah sampai perguruan tinggi. Tidaklah berlebihan untuk mengatakan bahwa Yogyakarta telah memegang peran yang penting demi tumbuhnya nasionalisme yang
melebur ke berbagai suku bangsa Indonesia menjadi Bangsa Indonesia seutuhnya Tak ayallagi, keberadaan Museum Benteng Vredeburg Yogyakarta sebagai bukti sejarah masa lampau dapat menjadi pengobar semangat peIjuangan dalam menggalang persatuan pada saat bangsa Indonesia sedang mengalami krisis persatuan antar suku dan golongan. Pemah dipajang pada ruang pameran di Museum Benteng Vredeburg Yogyakarta suatu monumen replika Tugu "Golong-Gilig", sebagai miniatur bangunan tugu yang mempunyai nilai lebih tinggi dibanding keberadaan Tugu "Pal Putih" di pusat kota Yogyakarta yang saat ini bercokol berdiri tegak. Memang, hampir bersamaan dibangunnya Benteng Vredeburg dan Tugu Golong-Gilig, yaitu pada saat Pangeran Mangkubumi menjadi Sultan Hamengku Buwono I ketika bertahta di singgasana Kerajaan Mataram. Tugu Golong-Gilig bertiang kerucut dengan sebuah bola di puncaknya, pada masa lampau sebagai simbol bersatunya rakyat dengan raja dalam perjuangan melawan Belanda (Soemarwoto, 2003).
Sejarah singkat ini mampu menunjukkan kesinambungan perjuangan Kasultanan Yogyakarta melawan penjajahan, baik pada permulaan didirikannya Kasultanan dan pada saat pemyataan Yogyakarta sebagai bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia. Membaca surat khabar belum lama ini, pelayanan dengan menjemput bola ke pelosok telah mulai dirintis dengan promosi tentang manfaat dan pentingnya mengunjungi museum. Artinya, kunci menjaga persatuan d'ID semangat juang telah dirintis dengan pelayanan terbaik kepada khalayak. Keseimbangan diperlukan antara kesiapan pelayanan yang baik, koleksi dan atraksi museum yang perlu di~bgkatkan, diikuti peningkatan kenyamanan pengunjung mliseum. Pemanfaatan teknologi jan informasi yang meningkat akan menambah pula daya tarik tersendiri.
Tak pelak lagi, nilai perjuangan sejarah museum sebagai pengobar semangat juang, museum juga sebagai sumber ilmu pengetahuan dan teknologi, tempat pembinaan dan pengembangan sejarah, sehingga berguna sebagai alat pemersatu dalam memerangi kebodohan dan kemiskinan. Bermodal semangat dan pekik peIjuangan para pahlawan yang dapat menggetarkan hati, sebenamya manfaat museum dapat menumbuhkan rasa kebangsaan dan cinta tanah air. Kita semua generasi muda penerus semangat juang untuk mengisi kemerdekaan dapat menimba ilmu dari keberadaan museum. Sosok bangunan Museum Benteng Vredeburg Yogyakarta selain sebagai benda cagar budaya yang dilindungi Undang-undang,juga merupakan wujud pelestarian ragam kebudayaan masa lampau yang dapat dipergunakan untuk mengobarkan 'genta' perjuangan masa kini dan masa mendatang. Harapannya akan terbangun rasa memiliki pada masyarakat yang dapat menumbuhkan semangat persatuan atau "golong-gilig" yaitu simbol persatuan dalam mengisi kemerdekaan. Mari bersama-sama, dengan bermodal semangat kemerdekaan kita tingkatkan prestasi dan kepribadian untuk masa depan bangsa!. Mari, kita sebagai pewaris nilai perjuangan dan kepahlawanan, bersama-sama melestarikan budaya dan sejarah, agar generasi muda pada masa sekarang dan generasi selanjutnya tidak buta terhadap kekayaan budaya dan sejarah perjuangan bangsa Indonesia di masa lalu.

Yogyakarta, 15 September 2006

(Winner Indi Manega)
Siswi SMPN IV Yogyakarta
Nomor Induk : 2040, Nomor Absensi : 36


Bahan Bacaan:
"Buletin Museum Benteng Vredeburg Yogyakarta Volume 5, Nomor 9, Juni 2004"
Kementrian Kebudayaan dan Pariwisata, Museum Benteng Vredeburg, Yogyakarta.
"Leaflet Museum Benteng Vredeburg Yogyakarta", Tanpa Tahun. Kementrian
Kebudayaan dan Pariwisata, Museum Benieng Vredeburg Yogyakarta.
Suharjo dkk, 2003. "Buku Panduan Museum Bent~ng Vredeburg Yogyakarta",
Kementrian Kebudayaan dan Pariwisata, Museum Benteng Vredeburg, Yogyakarta.
Soemarwoto Otto, 2003. "Menuju Jogja fropinsi Ramah Lingkungan Hidup Agenda 21
Pembangunan Pariwisata Berkelanjutan Daerah Istimewa Yogyakarta", Kantor Pemda DIY, Kepatihan, Danurejan, Yogyakarta.
Website Internet Benteng Vredeburg, Situs: www.gudeg.net (Gudang Info Kota Jogja)
dan www.jogjakartatheresikcity.net


Penulis:

Winner Indi Manega;

Rabu, 09 Februari 2011

“Keberanian Anak Sebagai Wasit Lingkungan”

“Keberanian Anak Sebagai Wasit Lingkungan”
Oleh: Winner Indi Manega

Remaja saat ini, hidup dan berkembang pada habitat yang telah mengalami kerusakan parah oleh ulah manusia yang kurang memperhatikan pengelolaan lingkungan dan lemahnya tindakan tegas. Penegakan hukum yang sangat lemah ini merupakan pendorong bagi banyak orang untuk tidak mematuhi perundang-undangan. Perhitungannya ialah bahwa biaya berdamai lebih murah daripada biaya mematuhi undang-undang. Akibatnya, kerusakan lingkungan hidup kita telah mencapai daerah yang luas dan tingkat sangat tinggi. Kondisi bumi yang semakin tak nyaman ini akibat terganggunya sistem alam dan siklus yang tak seimbang.
Ketika karbon dari muka bumi terus dilepas ke atmosfer lewat pembakaran bahan bakar fosil dan organik, tatkala jutaan hektar hutan sebagai pengisap karbon terus ditebang melalui pembalakan liar. Manakala, limbah kimia beracun lain menggelontor ke bumi, laut dan udara, juga efek rumah kaca yang merobek lubang ozon. Akibat yang ditanggung, terjadilah perubahan iklim dan pemanasan global. Anomali alam seperti itu jelas akibat perilaku manusia yang cenderung serakah dan boros, baik dalam bentuk kerakusan mengeksploitasi alam maupun gaya hidup dan pola konsumsi yang tidak memperhatikan ekologi.
Kita merasa sudah mempunyai hak tinggal di bumi, sehingga dengan seenaknya memakai udara serta air yang bersih selama ini. Tetapi gambaran seperti itu akan berubah secara drastis karena alasan yang sangat komplek, udaranya beracun serta danau dan aliran sungai telah berpolusi. Sebagai generasi penerus, kami sangat merasakan gejala alam yang tidak seimbang, adanya pemanasan global dengan dampak langsung pada keselamatan dan pertumbuhan umat manusia. Adanya isu globalisasi dan keprihatinan kerusakan lingkungan yang telah merambah dunia anak-anak, menyebabkan kita tidak dapat lagi tinggal diam mengabaikan lingkungan hidup.
Kerusakan alam terjadi selain karena eksploitasi sumberdaya alam yang membabi buta, juga tatkala orang mulai seenaknya membuang sampah dan limbah di sembarang tempat tanpa ada yang menegur atau menindaknya. Meskipun perangkat hukum dan undang-undang telah ada, tetapi tidak juga ada aparat yang melakukan tindakan tegas dengan tanpa denda dan penegakan hukum. Anak-anak hanya sebatas sebagai saksi bisu pelaku pencemaran dan perusak alam yang sudah kelewatan. Kami hanya bisa menjerit pilu, tanpa dapat berbuat sesuatu sekedar mengingatkan perusak dan pencemar lingkungan. Memang telah banyak tanda peringatan, larangan atau sekedar himbauan halus untuk tidak merusak lingkungan. Tapi apalah daya tanpa kekuatan, bila slogan hanya sebatas peraturan yang terpampang tidak diikuti tindakan tegas, eksesnya justru menarik untuk dilanggar oleh siapapun yang usil.
Peringatan atau larangan untuk tidak mencemari lingkungan tiada gunanya tanpa ada tindakan tegas, bukankah hanya sekedar “retorika” belaka? Siapa yang menjadi wasit, dan siapakah yang berhak melakukan denda atau hukuman? Seolah tidak terjawab! Mencuatnya tanda-tanya tentang siapa yang menjadi wasit lingkungan sering bergelayut pada pikiran yang tidak juga mampu untuk menjawab atau menindak sekalipun. Teriakan dan perasaan jengkel saja yang selalu muncul, tanpa ada jawaban pasti untuk sekedar kontribusi penyelamatan dan pelestarian lingkungan hidup.
Aksi ramai-ramai membersihkan sungai dari sampah oleh remaja, merupakan fenomena menarik untuk mengajak orang agar tidak membuang sampah dan limbah di sungai. Terhenyak kita, bila mencermati sentuhan pengelolaan lingkungan oleh anak-anak di taman bermain saat belajar mengambil sampah yang tercecer, maka bergegaslah para orang tua untuk tidak ikutan membuang sampah sembarangan. Aksi pelestarian lingkungan dengan sentuhan tindakan akan lebih efektif menggugah respon untuk merubah sikap dan perilaku sadar lingkungan, daripada sekedar memasang slogan larangan yang justru enak untuk dilanggar. Bukankah kita semua telah sepakat berusaha untuk memenuhi kebutuhan sekarang tanpa mengurangi kemampuan generasi yang akan datang untuk memenuhi kebutuhannya? Dalam rangka menjaga lingkungan hidup, kita perlu bergandeng-tangan bersifat dinamis dengan menggunakan hasil pemantauan sebagai masukan untuk mengoreksi kesalahan dan ketidaksesuaian suatu tindakan dengan kondisi lingkungan hidup. Masukan lain ialah informasi perkembangan teknologi dan pasar dan yang tidak kurang pentingnya ialah kritik dan saran dari masyarakat.
Bisakah dasar pengelolaan lingkungan hidup dikembangkan sejak dini? Pada masa kanak-kanak, kita bisa bebas bicara, bertanya, mengkritisi, bernyanyi, tertawa, dan beraktivitas lainnya tanpa takut salah, takut gagal atau tanpa malu diejek. Bertanya sebagai rasa ingin tahu, meniru, belajar dan mencoba kecakapan baru dalam mengelola lingkungan merupakan kegiatan bermain yang sesungguhnya mengasyikkan dan menyenangkan bagi anak-anak.
Berkembangnya emosi dan pemikiran serta masuknya nilai-nilai, budaya yang memberikan pertimbangan dalam menjaga kelestarian lingkungan hidup, menyebabkan kemampuan spiritual anak semakin terasah. Pemikiran, pertimbangan dan perasaan menjadi penentu dalam bertindak, berpikir dan beraksi dalam pemahaman kesadaran lingkungan. Tapi sesungguhnya, kedewasaan itu bukan ditentukan oleh umurnya, namun kedewasaan itu ditentukan oleh tindakannya dalam mengelola lingkungan hidup kelak.
Sebenarnya ada semangat atau spritual anak yang lebih penting dalam mengelola lingkungan, ditandai adanya prakarsa dengan tindakan apabila dilakukan dengan senang hati oleh sang anak. Apalagi pemahaman pengelolaan lingkungan hidup dapat dilakukan sambil belajar dan bermain di alam terbuka. Menjelajah alam adalah kegemaran anak, sebagai rasa ingin tahu kehebatan pencemaran dan kerusakan ekosistem yang ada. Meneriaki perusak ekosistem, dan berani melapor pada siapa yang bertanggung jawab terhadap kelangsungan lingkungan hidup? Siapa yang menjadi wasit kerusakan alam sesungguhnya?
Dapatkah keberanian waktu kanak-kanak dalam mengelola lingkungan hidup dipertahankan? Apabila generasi pendahulu dapat mempertahankan keberanian setiap ada pencemar dan perusak lingkungan langsung dilakukan teguran dan tindakan tegas, tentu hingga kini kita masih tetap dapat merasakan bersihnya alam dengan sedikit polusi. Semua orang, termasuk anak-anak perlu mendapatkan kesempatan untuk melakukan proses belajar bersama agar dapat menjadi pelaku utama, sehingga dapat memberikan sumbangan mendasar yang penting bagi tegaknya keadilan dalam perencanaan pengelolaan lingkungan hidup secara adil dan lestari.
Kemiskinan juga mempersulit peranan anak-anak sebagai penerus generasi yang akan datang karena berpengaruh pada lajunya pendidikan. Pencemaran lingkungan menggangu kesehatan anak dan menghambat pula perkembangan janin. Akibatnya, akan lahir bayi dengan berat badan di bawah normal. Hal ini berakibat fatal, karena dapat mengurangi jumlah anak yang dapat menjalanjkan program wajib belajar sembilan tahun, sehingga dapat mengakibatkan berkurangnya jumlah angkatan kerja yang produktif, dan menyebabkan bertambahnya jumlah angka pengangguran.
Anak-anak mempunyai kedudukan penentu bagi generasi yang akan datang. Namun peranan anak yang sangat penting itu tak dapat dilaksanakannya dengan baik karena pencemaran dan kerusakan lingkungan lainnya serta kemiskinan. Seyogyanya kita memperhitungkan anak-anak sebagai generasi penerus dalam pembangunan. Perlu ada pemahaman bersama, bahwa pembangunan harus bersifat berkelanjutan. Karena jika pembangunan tidak dilanjutkan, maka negeri kita ini akan menjadi suatu negara yang tak akan menjadi negara yang maju. Jika bangsa kita tidak pernah maju, negara kita ini tidak akan diakui oleh dunia. Hal tersebut sangat disayangkan, karena sebenarnya bangsa ini memiliki kekayaan alam, keanekaragaman hayati dan ragam budaya.
Apa yang terjadi pada pengetahuan pengelolaan lingkungan yang kita kenyam selama ini ialah sekedar diajari untuk mendapatkan informasi, tetapi tidak untuk mencari, memilih dan mengolah informasi tentang pengelolaan lingkungan hidup. Kita tidak diajar untuk menguasai arus informasi tentang lingkungan hidup secara mendasar. Akibat dari sistem ini ialah, kurangnya pemahaman sadar lingkungan sejak dini, bahkan tidak menentu. Sepertinya, kita sering hanya mengikuti perkembangan isu lingkungan yang sedang populer saja.
Bangkitkan semangat rasa ingin tahu anak dan keberanian mengajukan pendapat terutama dalam mengkritisi masalah kerusakan lingkungan, kepekaan dan kepedulian anak terhadap pelestarian lingkungan. Anak-anak pergi sekolah, dengan harapan dapat merubah dirinya menjadi anak yang lebih pandai, kreatif, mandiri dan tanggap terhadap lingkungannya. Pintar yang sesungguhnya adalah yang tanggap terhadap lingkungannya. Sejak usia dini anak terlatih senang membaca, menulis masalah lingkungan, bercerita, menyanyi, menari dan mengenal alam sekitar. Anak-anak dapat mengikuti proses belajar dengan nyaman di alam terbuka, karena tahu bahwa proses belajar yang dilakukannya lebih berarti dibandingkan dengan hasilnya. Pengembangan keterampilan berkomunikasi dan beradaptasi dengan lingkungan sangat diperlukan di kemudian hari. Pada saatnya kelak, anak akan tumbuh dewasa memiliki ketrampilan dan daya tanggap terhadap lingkungannya yang menjadi landasan kuat bagi kemampuan bekerja sama, memimpin untuk kepentingan bersama.
Pemupukan sadar lingkungan dapat dilakukan dengan kegiatan belajar sambil bermain. Terjun langsung di alam sebagai media untuk mengais pengetahuan pengelolaan lingkungan, akan lebih efektif manfaatnya. Pengenalan lingkungan di alam terbuka akan dapat dengan mudah diterima dan dicerna arti pentingnya hidup di lingkungan yang berkualitas dengan santai namun tetap dapat mengerti pesan yang disampaikan untuk mengelola lingkungan. Anak-anak dapat menuangkan kreasi dan menyampaikan aspirasi dengan bebas tanpa rasa enggan ataupun rasa takut untuk menyampaikan langkah penyelamatan dan pelestarian lingkungan.
Wasit lingkungan menjadi penting keberadaannya untuk menegakkan peraturan dan perundangan yang berlaku! Sebenarnya siapa saja dapat menjadi wasit lingkungan, asalkan saja aparat dan penegak hukum juga telah siap.. Apakah kita masih harus menunggu bumi ini semakin rusak parah kalau kita semua penghuni planet tidak segera bersikap dan bertindak untuk menyelamatkan lingkungan yang semakin kronis? Beranikah kita berteriak sebagai wasit lingkungan apabila ada orang buang sampah sembarangan? Beranikah kita menegur orang buang limbah ke sungai? Akankah kita tinggal diam apabila habitat kita semakin rusak parah? Kenapa belum juga kunjung ada jawaban pasti yang disertai tindakan tegas penegakan hukum dan denda bagi perusak lingkungan? Akankah kita hanya bisa berteriak dan berpangku tangan saja selamanya? Keberanian sebagai wasit lingkungan sejak usia dini hingga dewasa dapat dipupuk demi untuk menyelamatkan dan melestarikan alam semesta ini dari ulah manusia jua! Anak sebagai pewaris alam di masa depan, kelak sebagai pemangku kebijakan pelestariannya sangat ditentukan di usia dini. Keberanian sebagai wasit lingkungan merupakan mekanisme yang berwibawa untuk tidak sekedar mengoreksi penyimpangan dari kelakuan ramah lingkungan, tetapi menindak tegas pencemar dan perusak lingkungan hidup.


Yogyakarta, 14 Mei 2008

Penulis,

Winner Indi Manega

”Kuatnya Akar Tradisi Batik Tulis”

”Kuatnya Akar Tradisi Batik Tulis”
Oleh: Winner Indi Manega

Semakin pudarnya budaya batik, adanya kecemasan akan kedahuluan hak paten, lesunya produksi batik tulis merupakan pertanda goyahnya akar tradisi budaya tempo dulu yang sangat tersohor sebagai budaya besar bernilai seni tinggi. Isu akan kehilangan hak paten batik tulis menjadi penting, karena isu tersebut mendapat perhatian besar dari masyarakat. Bagaimana usaha batik tulis berkembang, apabila perputaran produksi kurang bergairah? Akibatnya, karya hanya ditumpuk, tanpa ada perubahan yang menarik bagi konsumen, kegiatannya semakin lesu saja! Ketidakpopuleran batik telah menyurutkan semangat warga untuk memperhatikannya sebagai sandaran hidup. Padahal, kekuatan kelompok masyarakat yang penghidupannya dari membatik, merupakan akar pengembangan tradisi batik tulis yang lebih kuat menghadapi gelombang krisis keuangan, karena tak ada pilihan lain.
Batik dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu batik klasik dan batik modern. Penggunaan batik tidak hanya sebagai pakaian adat, akan tetapi sudah mengikuti perkembangan mode busana, bahkan biasa digunakan sebagai desain interior dan perlengkapan rumah tangga. Motif batik klasik dalam busana adat, penggunaannya disesuaikan dengan kedudukan sosial atau status dalam tatacara atau adat istiadat, misalnya motif parang rusak barong harus diterapkan pada busana raja, motif parang kusuma dipakai anak raja. Beberapa jenis motif yang paling sering diproduksi yaitu Sidoasih, Sidomukti, Sidoluhur, Parangkesit, Parangrusak dan Kawung. Motif Kawung yang menggambarkan ikatan bulatan sebagai simbol persatuan, apabila disimak lebih lanjut merupakan simbol bersatunya rakyat dengan pemimpin, lebih mendalam bersatunya manusia dengan Tuhannya. Simbol yang bernilai tinggi inilah yang perlu diturunkan agar supaya anak cucu generasi penerus selalu ingat pada Sang Pencipta. Apabila akar tradisi batik tulis yang bernilai seni yang tinggi ini dilestarikan secara menerus akan dapat memperbaiki moral bangsa, sehingga anak bangsa tidak mudah terombang-ambing oleh pengaruh buruk budaya asing yang masuk.
Batik tulis telah menjadi suatu komoditas yang nilainya ditentukan oleh kekuatan pasar. Persediaan bahan baku yang semakin terbatas, menyebabkan gejala kenaikan harga batik tulis tak terhindarkan. Bahan baku batik, pewarna alami merupakan sumber daya utama yang sangat kritikal, disamping pengadaannya yang semakin sangat terbatas, sifatnya memungkinkan untuk dikembangkan. Kini, bermunculan batik cap buatan pabrik berbahan baku kain yang panas, laris manis sangat terjangkau daya beli masyarakat. Seragam anak sekolah dan karyawan telah banyak memakai batik cap yang murah. Banyak wisatawan setelah membeli batik cap, bergumam: “Apa sih keistimewaan batik buatan Indonesia? Ternyata panas dan gatal dipakai”. Zat kimia pewarna pakaian menjadikan tidak laku untuk dikirim ke luar negeri, karena juga merusak lingkungan.
Tak ayal lagi, perlu dimasyarakatkan batik tulis murah untuk seragam. Bukannya tak mungkin, anak-anak dilatih untuk membuat batik tulis dengan motif tertentu untuk gemar memakai sendiri hasil karya yang telah dibuatnya. Jalan keluar lain adalah mencari upaya yang paling sesuai untuk meningkatkan kemampuan desain batik tulis yang ada agar dapat memberikan manfaat yang lebih besar lagi bagi kelangsungan budaya batik tulis yang lebih baik. Maka lahirlah upaya untuk mengkombinasi zat warna alami dengan batik cap bertujuan untuk memberikan vitalitas baru, dapat menekan harga agar murah. Kebijakan pelestarian batik mengacu Soemarwoto (2009) perlu diubah dari pembangunan berwawasan ekonomi menjadi pembangunan berwawasan budaya. Dengan perubahan ini kemunduran lebih lanjut dapat dicegah dan akhirnya dibalikkan. Berdasar kebijakan baru pelestarian batik, jika terjadi konflik antara ekonomi dan kebudayaan, kebudayaanlah yang diberi prioritas!
Jika ketiadaan pasar menjadi alasan utama bagi pengrajin batik tulis, setidaknya ada langkah yang harus ditempuh oleh para aktor, khususnya pemerintah. untuk mempromosikan pasar batik tulis, baik untuk konsumen domestik maupun mancanegara harus lebih ditingkatkan. Setidaknya pemerintah berinisiatif untuk membangun kawasan kerajinan untuk menjamin keberlangsungan persediaan dan permintaan batik tulis agar selalu tersedia. Fasilitasi, pendampingan, kemitraan, promosi dan pemasaran sangat diperlukan bagi kelompok pengrajin batik tulis yang masih lemah perekonomiannya. Upaya pelestarian budaya batik tulis, sasaran yang sebenarnya adalah para pengrajin batik tulis yang berperan sebagai ujung tombak bagi pertahanan budaya, agar tetap memiliki semangat dalam berkarya.
Kelompok masyarakat pengrajin batik tulis inilah sebenarnya merupakan sasaran utama pelestarian budaya yang kini menjadi incaran pengakuan untuk dicontoh, bahkan dipatenkan di negara lain. Bukannya mustahil hasil karya dapat serupa, namun kita tak perlu takut kehilangan tradisi batik tulis yang sesungguhnya telah mengakar dan mendarah daging di segenap sendi kehidupan kelompok masyarakat pengrajin.

Makna Tradisional Batik Tulis
Konsentrasi peran yang besar dalam pelestarian budaya batik tulis, tidak terlepas dari kenyataan bahwa batik tulis merupakan budaya adiluhung bangsa yang perlu dilestarikan dan diwariskan pada generasi muda untuk kegiatan produktif dan pengembangan ekonomi kerakyatan. Budaya batik tulis, dihasilkan oleh perjalanan hidup manusia dan diwariskan dari zaman ke zaman, dari generasi ke generasi. Menjadi citra dan jati diri sesuatu bangsa merangkum segala bentuk kecintaan seni batik berbagai motif milik bangsa. Kegiatan turun menurun membatik yang diwarisi bukan tradisi yang dimaksudkan, karena tradisi yang dimaksud adalah mempunyai nilai tertinggi, diturunkan dalam makna yang terkandung pada budaya daerah yang berfungsi sebagai identitas atau ciri tradisi. yang perlu dilestarikan.
Menilik betapa pentingnya fungsi ‘tradisi’ sebagai akar budaya batik tulis, akan diperoleh inti kajian yang sebenarnya sebagai organisme spiritual yang memberikan kepada manusia petunjuk dan tuntunan terus-menerus ke arah pengetahuan kembali, untuk selalu ingat kepada Tuhan Sang Pencipta (Hardjono, 1964). Identitas budaya batik tulis klasik motif dan cara pembuatan yang mengacu pada tradisi, tentu segala tingkatnya merupakan simbol dalam motif batik tulis dengan nilai tertinggi. Apabila ada nilai tradisional yang baik, walaupun ada sementara yang menganggap kuno, tidak seyogyanya ditinggalkan serta dilupakan hanya untuk suatu kemajuan. Justru, nilai-nilai tersebut kelak dapat memperkuat kemajuan bila dipelihara dan dikembangkan.
Seni batik tulis klasik mempunyai nilai yang tinggi, baik dalam susunan komposisi cara pengisian bidang yang dihias, ataupun dalam cara menstilir corak motif hiasnya. Pembagian bidang yang dibatik diatur dengan skala dan komposisi, sedang motif naturalis seperti daun, akar dan bunga maupun binatang distilir menurut kehalusan rasa. Oleh sebab itu dalam seni batik tulis klasik terlihat perpaduan yang harmonis antara rasa dan pikir. Biasanya seni batik tulis itu dijalin satu dengan seni tulis. Inilah suatu keistimewaan seni batik tulis klasik yang sering terdapat pada kain.
Setiap penciptaan motif batik klasik pada mulanya selalu diciptakan dengan makna simbolisme, meskipun telah dimodifikasi dengan selera modern. Oleh sebab itu batik tulis bukan semata-mata sebagai perwujudan “seni” untuk “seni”, atau sebagai pencurahan rasa “indah” saja. Tetapi hasil karya batik tulis, sesungguhnya dapat memberikan kesan lain yang lebih mendalam, yaitu kesan keindahan yang mendekatkan pada Ketuhanan dan peri kemanusiaan agar memberi kesejahteraan, ketenteraman, kewibawaan dan kemuliaan serta memberi tanda status sosial bagi si pemakai. Nilai tinggi yang dikejar selaras dengan nilai mutlak apabila mengacu pendapat Baker SJ, (1984) bahwa, hanya nilai mutlak menjamin benarnya nilai-nilainya yang dikejar manusia. Nilai yang dikejar memang ada berwujud batik tulis klasik yang merupakan hasil karya bernilai tinggi dari wujud kerjasama dan toleransi dalam kebudayaan antara seni batik dan tradisi daerah.

Menancapkan Akar Tradisi Batik Tulis
Akar tradisi batik tulis tumbuh dan berkembang dari kelompok masyarakat pengrajin batik sebagai penghidupan. Kegiatan membatik yang mendarah daging untuk penghidupan keluarga dilakukan secara turun-menurun berawal dipasarkan oleh kerabat terdekat. Ibarat akar yang ditancapkan dari benih biji, pasti tumbuhnya akan lebih kokoh dibanding dari benih cangkok. Akar tradisi budaya membatik yang diwariskan pada anak sejak dini, dapat membuat anak lebih mencintai dan menghargai batik tulis. Bagaimana mengkondisikan generasi muda untuk cinta pada seni dan paham pelestarian warisan budaya bangsa adiluhung, merupakan ajakan yang menantang, bukan?
Upaya perubahan penting, berawal dari saling pemberdayaan antara kelompok pengrajin batik yang kurang mampu dengan pihak luar seperti pemerintah, swasta, perguruan tinggi maupun lembaga swadaya masyarakat. Pemberdayaan yang dimaksud bukannya menganggap pengrajin kecil sebagai obyek, tetapi memposisikannya sebagai subyek pelestari batik tulis. Mempekerjakan pembatik dengan upah yang tidak sepadan dengan nilai jual, adalah bukan pemberdayaan yang dimaksud, karena yang diperkuat bukannya rakyat kecil, tetapi semakin memperkuat pemilik modal. Padahal sesungguhnya, pendamping atau pelatih dari pihak luar juga perlu belajar kepiawaian pembatik sebagai kearifan lokal. Munculnya bukan dilakukan pemberdayaan, akan tetapi saling pemberdayaan karena terjadi kesalingtergantungan yang sinergis. Bagi para pemilik modal yang biasanya melakukan pemberdayaan bagi pengrajin batik tulis, biasanya hanya merekrut tenaga pembatik sekedar untuk diberi upah. Kelihatannya ada inovasi teknologi dan desain batik, tetapi yang terjadi masyarakat kecil tetap tidak berdaya, semakin tidak mandiri. Kelompok pembatik yang lemah ini memerlukan fasilitas sarana dan prasarana pembatik, komitmen pelatihan, peningkatan manajemen dan pemasaran.
Batik klasik yang kita miliki sebagai hasil budaya mampu menjadikan ciri khusus yang berbeda dengan daerah lain sebagai kearifan lokal yang perlu dilestarikan. Batik klasik mempunyai nilai dan cita rasa seni yang tinggi, pembuatannya rumit, berpola dasar tertentu dengan berbagai macam variasi motif, seperti kawung, parang, nitik, truntum, ceplok, tambal dan lain sebagainya.
Untuk menyesuaikan gaya motif busana masa kini dengan ragam hias batik klasik mupun modifikasi, diperlukan variasi motif batik, baik gayanya, perubahan susunan gambar, sampai skema warna. Motif batik klasik yang biasa dipakai pada busana tradisi, masih bisa diadaptasi bentuk-bentuknya dengan mengeksplorasi warna maupun komposisinya. Apabila motif batik klasik tersebut diolah secara modern, maka penampilannya layak untuk dapat bersaing di pasar busana batik modern. Cara mengaplikasikan motifnya tidak hanya terpaku pada kain yang sudah jadi, tetapi bisa dengan membuat motif hias sendiri. Keluwesan desain dapat membuat busana batik tulis yang menarik dan disenangi konsumen, bermotif sederhana, tidak semua bidang dipenuhi dengan goresan ornamen atau bidang gambar.
Adanya sejumlah peluang pasar yang diberikan tidak dapat mencapai tingkatan laku jual dari keuntungan seperti yang diharapkan. Untuk menekan harga produksi batik tulis supaya tetap terjangkau, dilakukan efisiensi yang berhubungan dengan penggunaan sumber daya ekonomi yang terbatas sedangkan efektifitas berhubungan dengan pencapaian hasil sesuai dengan kualitas. Pelestarian dan pengembangan batik tulis diharapkan mencapai kedua aspek ini semaksimal mungkin. Isu efisiensi, efektifitas, dan akar tradisi untuk upaya pelestarian batik tulis dengan kesederhanaan motif hias dan pewarnaan alami merupakan hal yang perlu selalu mendapatkan perhatian! Prinsip yang perlu diperhatikan untuk menjawab isu, perlu membuat lebih dekat proses pengambilan keputusan dan pembiayaan suatu program pelestarian batik tulis terhadap kelompok sasaran. Hal ini untuk memperbaiki efisiensi program pelestarian, karena lebih sensitifnya program terhadap variasi lokal dan lebih tajamnya perumusan. Di lain pihak, pendekatan demikian juga akan memperbaiki efisiensi produk karena pembiayaan yang lebih langsung dari kelompok sasaran akan meningkatkan akuntabilitas lokal.
Adanya desentralisasi, untuk meningkatkan sensitifitas proses pengambilan keputusan dan pelaksanaan suatu program terhadap kebutuhan kelompok sasaran. Prinsip ini untuk meningkatkan efektifitas dan produktifitas. Adanya kompetensi yang sesungguhnya di dalam proses produksi batik tulis untuk keperluan pengadaan suatu program sehingga efisiensi dari pelaksanaan dapat dijaga. Hal ini membutuhkan keterlibatan pendamping, sektor swasta dan dipergunakannya prinsip mekanisme pasar yang sehat untuk proses produksi batik tulis.
Pembenahan pengelolaan keuangan memungkinkan dilibatkannya sumber daya keuangan swasta untuk investasi dan mendapatkan pemasukan secepat mungkin dan menerus dari kelompok sasaran pengrajin batik tulis untuk operasi dan pemeliharaan. Adapun peran pemerintah, swasta dan lembaga swadaya masyarakat dapat mengatasi masalah sarana dan prasarana bagi kelompok pengrajin batik bermodal kecil. Fasilitasi modal, peralatan dan ketrampilan pembatik sampai manajemen pengelolaan belumlah cukup bagi masyarakat perdesaan yang terbatas akses informasinya, sehingga perlu pendampingan kemitraan dan dihubungkan dengan peluang pasar. Agenda pelatihan, kunjungan wisata, promosi dan pameran di perkotaan diperlukan, mengingat keterbatasan arus informasi di perdesaan meskipun telah ada penggunaan teknologi internet dan media massa.
Program pelestarian perlu sensitif terhadap kepentingan lingkungan, seperti penanaman pohon untuk pewarnaan alami berikut pengelolaan limbah batik. Dipergunakannya teknologi tepat guna dan adanya kompetensi untuk pemilihan investasi, pengembangan desain batik tulis dan pelaksanaan infrastruktur berikut operasi serta pemeliharaannya. Hal ini dimaksudkan untuk efisiensi dan efektifitas dari suatu kegiatan pelestarian. Agaknya, belum semua kekayaan budaya batik tulis dikenali, dikualifikasi dan dispesifikasi. Potensi batik tulis belum diidentifikasi dan diinventarisasi secara rinci dan lengkap.
Potensi pengembangan batik tulis, baru “dikemas” dalam format terbatas, belum untuk jualan. Potensi kekayaan budaya adiluhung batik tulis yang ada belum terjual optimal. Potensi yang ada dijual dalam format dan kemasan apa adanya. Penjualan kekayaan budaya tidak dilakukan secara terstruktur, tetapi secara terlepas-lepas. Kita dapat menjual dengan kerangka kemitraan terdiri atas berbagai kelompok pengrajin merupakan bagian yang dapat distrukturkan dalam satu satuan manajemen produksi dan pemasaran batik tulis.
Kehidupan kelompok pengrajin batik tulis terbagi atas berbagai kawasan dan wilayah yang berbeda, sebenarnya merupakan satuan komunitas manajemen pelestarian dan pengembangan batik tulis yang perlu saling ada jaringan komunikasi dan kemitraan secara jelas. Menjual layanan potensi batik tulis dengan prinsip biaya perbaikan produksi dan pengantaran layanan dilakukan dengan dasar menghasilkan kembalinya biaya produksi untuk layanan yang lebih baik. Prioritas pada kelompok batik tulis, perlu disiapkan satuan pengelola jaringan komunikasi dan kemitraan yang memadai dan dapat menerima limpahan sebagian urusan produksi dan pemasaran.
Kekayaan warisan budaya batik tulis yang turun-menurun telah bercokol pada suatu komunitas di perdesaan ataupun di perkotaan dapat diarahkan untuk dikelola masayarakat sendiri, tapi selalu terbina manajemen serta pemasarannya. Supaya laku jual produksi batik tulisnya, dapat dibina melalui satuan manajemen profesional masyarakat secara mandiri agar “penjualan” dapat menghasilkan kontribusi pendapatan untuk membiayai pelayanan pasar. Selanjutnya, perlu diperbaiki sistem keuangan program batik tulis secara berkelompok. Apabila memungkinkan dilibatkannya sumber daya keuangan swasta untuk investasi dan mendapatkan pemasukan yang selangsung mungkin dan berkelanjutan dari kelompok sasaran agar meningkat operasi dan pemeliharaan dari suatu fasilitas yang diadakan melalui program pelestarian.
Bukankah kita justru bangga, bila hasil karya budaya batik tulis kita diperagakan di negara lain yang sebenarnya merupakan promosi kekayaan budaya asli Indonesia? Apabila kita merasa takut kehilangan sosok budaya batik tulis, seharusnya kita berlomba melakukan tindakan untuk saling memperkuat dan mempertahankan khasanah dan ragam budaya yang telah kita miliki. Perlunya alih generasi pengrajin batik tulis pada generasi penerus bangsa semakin digalakkan dan ditumbuh-kembangkan agar kembali kukuh, kuat bercokol sebagai akar kekuatan budaya bangsa yang besar dan adiluhung.
Bukankah ragam budaya di Indonesia yang melatar-belakangi sejarahnya masih mampu menangkap dengan baik pandangan pesimis tentang keampuhan budaya yang beraneka-ragam di tanah air? Persoalannya memang terkait erat dengan upaya pelestarian kerajinan batik tulis masing-masing daerah yang tetap mengacu pada makna simbolisme. Kekayaan peninggalan budaya batik tulis sebagai daya pikat untuk menarik banyak wisata dan pembeli. Seni budaya batik tulis yang bernilai tinggi sebagai motor penggerak pembangunan ekonomi yang dapat didasarkan pada pariwisata.
Selain wisata alam, keberadaan wisata batik tulis di suatu kawasan, akan dapat diketahui apabila ada kebiasaan pengrajinnya yang selalu berkumpul, mengelompok, demi serangkaian proses pembuatan yang tidak efisien bila dilakukan sendirian. Upaya pelestarian batik tulis yang dikembangkan, memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk melaksanakan pembangunan oleh masyarakat dan bersama masyarakat. Selaras dengan pernyataan Haryono Suyono et al (1997) jika dapat memanfaatkan warisan budaya kita sebagai potensi wisata, dapat menjadi sumber pendapatan yang sekaligus akan memperkutan usaha pencagarannya. Pariwisata yang dikembangkan bukan semacam desa-wisata yang dikelola orang kota pemilik modal, tapi eko-wisata yang berpihak pada rakyat miskin. Hal ini sesuai dengan konsep eko-wisata yang disarankan Cezayerli (2003) yaitu “pariwisata yang dikembangkan dengan dasar pro-rakyat miskin dapat memberi sumbangan yang berarti pada usaha penanggulangan kemiskinan”. Menilik betapa pentingnya upaya melestarikan budaya lokal dengan konsep eko-wisata sebagai langkah kemajuan dengan kebudayaan yang lengkap berlatar-belakang sejarah dan keadaan geografisnya sebagai ‘identitas daerah’.
Bukankah budaya kita terkenal “kuat” serta “tahan uji” dan tidak mudah terombang-ambing dipengaruhi oleh siapapun? Bukankah budaya kita merupakan budaya yang besar, adiluhung, berbadan samudra yang tidak mudah tergoyahkan oleh pengaruh budaya lain? Budaya batik tulis sebagai budaya bangsa yang adiluhung, perlu dilestarikan dan diwariskan pada generasi muda. Apabila keahlian membatik diturunkan sejak anak usia dini, artinya kecintaan seni batik dapat mengakar pada kehidupan masyarakat. Kebisaan mencintai seni budaya batik tertanam, apalagi anak mengetahui proses dan arti motif batik yang keseharian digeluti karena terlibat dalam pebuatan atau mempergunakannya sebagai pakaian dan hiasan. Kuatnya warisan budaya batik tulis yang telah mengakar meskipun terkena keringnya krisis keuangan, namun tetap diliputi keindahan dan kecintaan pada seni batik milik bangsa yang tak ’kan mudah lapuk oleh hujan, dan tak ‘kan lekang oleh jaman.
Tulisan ini tidak bermaksud untuk memberikan solusi akhir pelestarian batik tulis. Masalahnya pelestarian budaya batik harus menerus dan berkelanjutan. Ternyata ada dua fungsi dalam membangun hubungan pelestarian dan kesadaran. Pengalaman menunjukkan bahwa fungsi kedua, yaitu fungsi kesadaran rasa memiliki budaya bangsa yang besar seni batik tulis tidak dapat diabaikan. Kita harus menyadari adanya fungsi kedua ini, mendiskusikannya dan berusaha untuk melestarikan kekayaan budaya batik tulis yang adiluhung yang sangat perlu diwariskan pada generasi muda.
Yogyakarta, 30 Juni 2009
Penulis,


(Winner Indi Manega)

Bahan Bacaan:
Baker SJ, J.W.M. 1984. ”Filsafat Kebudayaan Sebuah Pengantar”, Kanisius, Jakarta.
Hardjono. 1964. ”Tradisi”, Fakultas Sosial dan Politik Universitas Gadah Mada, Yogyakarta.
Haryono Suyono, Edi Sedyawati dan S. Budhisantoso. 1977. Introduction. Dalam: Tourism and Heritage Management, Wiendu Nuryati, ed. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.
Cezayerli,G. 2003. Tourism more than sight-seeing. ADB Review, July-August 2003.
Soemarwoto Otto. 2009. “Pembangunan Berkelanjutan Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta”, Badan Perencanaan Daerah Provinsi DIY, Yogyakarta.

KANDIDAT PEMIMPIN YANG MENYATU DENGAN RAKYATNYA


KANDIDAT PEMIMPIN YANG MENYATU DENGAN RAKYATNYA
Oleh: Winner Indi Manega

Gencarnya arus perubahan yang terus menuntut lebih terbuka, adil, merata, demokratis dan memihak rakyat kecil semakin terasa seiring dengan merambahnya perubahan peluang pasar bebas dan tuntutan mengatasi pemanasan global yang tak dapat ditunda. Bersatunya anak bangsa bersama pemimpin yang mumpuni, mengerti dan memahami untuk membela nasib rakyat serta bersikap ramah lingkungan perlu disiapkan sejak dini dan berkelanjutan. Tak ayal lagi, siapa yang dicari kalau bukan kandidat anak bangsa yang lebih peduli dengan nasib si miskin, dapat membuka peluang kerja, mengedepankan kaum wanita, mengutamakan persatuan anak negeri dan pandai menjaga keseimbangan lingkungan.
Kini negara sedang terpuruk karena krisis kepemimpinan. Mengapa seolah tak ada pemimpin negara, legislatif maupun eksekutif yang bersifat negarawan? Tak ada yang mempunyai pandangan jangka panjang, melainkan “oportunistik” mencari keuntungan sesaat bagi golongan dan dirinya. Tak ada yang berpihak pada rakyat miskin. Rakyat hanya digunakan sebagai slogan melulu. Untuk itu, pemupukan jiwa kepemimpinan anak sejak usia dini perlu dilakukan segera, artinya peran pendidikan dan orang tua menjadi utama untuk mengisi kandidat pemimpin bangsa yang berpihak pada rakyat. Anak muda harus berani menjanjikan masa depan yang dinamis dan maju. Dicari anak muda, berbakat, kreatif, jujur dan bermoral sebagai kandidat yang menunjukkan komitmennya  meneguhkan kepemimpinannya kelak untuk rakyat dengan hasil yang nyata. Bukan hanya kandidat yang hanya pandai membual dan obral janji kosong, melainkan kandidat pemimpin bangsa Indonesia masa depan dituntut mampu berperang melawan kemiskinan dan keterbelakangan!
Pendidikan formal dan non-formal sangat diperlukan untuk memupuk kandidat pemimpin bangsa yang besar, maju, dan dapat menjadi suri tauladan. Berawal dari keharmonisan kehidupan keluarga, pandai bergaul dan bermasyarakat di kampung halamannya dan di sekolahan, belajar beroganisasi sosial dan berusaha selalu menjadi pelopor dan tidak otoriter dalam berteman. Belajar demokrasi, bermufakat secara musyawarah dimulai dari kelompok kecil adalah dapat melatih anak bertoleransi dan lebih demokratis. Kompetisi yang semakin ketat, menuntut anak sebagai kandidat pemimpin bangsa perlu menimba ilmu dan pengalaman nyata di masyarakat dan di alam bebas, sehingga tidak canggung dan lebih arif. Anak perlu bermain bebas dan gembira, anak perlu belajar tanggungjawab terbesar untuk menentukan dan mewujudkan pendapat mereka menjadi sebuah bentuk presentasi yang kreatif dan tepat sasaran. Pembelajaran pada anak seyogyanya lebih mengutamakan anak sebagai kandidat pemimpin bangsa yang dekat dengan rakyatnya, memiliki moral, etika dan berbudi luhur. Kandidat pemimpin yang dicari harus mampu membawa estafet pembangunan yang berorientasi pada pembangunan manusianya, agar kualitas sumber daya manusia terus meningkat. Paham dan peka terhadap masalah kekinian yang merupakan landasan untuk mengatasi masalah yang sedang dihadapi dan akan mampu membawa rakyatnya ke tingkat kesejahteraan material dan spiritual yang lebih baik adalah amanah bagi pemimpin masa kini.
Pendidikan yang dapat menelorkan kandidat pemimpin bangsa yang merakyat tidaklah diartikan dalam arti sempit, yaitu pendidikan ilmu dan teknologi saja. Tidak hanya pendidikan yang hanya tahu “salah” dan “benar”, tapi juga dapat memberi kebebasan berekspresi dan ruang kreatif, sehingga yang ada adalah baik, baik, ….. baik dan bagus! Pendidikannya tidak hanya pasif, menunggu dan diberi, tapi lebih pada mencari pengetahuan dan pengalaman secara aktif dan mandiri. Harapan yang tidak kurang pentingnya ialah pendidikan untuk menciptakan sumber daya manusia yang bersifat “satria”. Sebab kandidat pemimpin yang baik dan berbudi hanyalah dapat tercipta oleh perbuatan satria. Semangat dan komitmen yang tinggi terhadap kewajibannya, tidak meninggalkan jati-dirinya sebagai seorang satria, bertakwa kepada Tuhan dan mempunyai rasa tanggung jawab yang tinggi terhadap kewajibannya. Berani mengambil keputusan yang benar, pandai menyampaikan amanah yang diemban pada khalayak. Tak gentar akan derasnya cercaan dan cobaan serta mampu mengatasi berbagai masalah maupun bencana yang tak kunjung henti secara arif dan bijaksana. Tumpuannya pada estafet sumber daya manusia yang kreatif, jujur, amanah, berkemampuan serta beretos kerja gigih. Sifat itu dapat terlaksana apabila ada idealisme, komitmen yang tinggi, integritas moral dan nurani yang bersih pada anak muda generasi penerus. Hanya dengan sumber daya manusia yang demikian akan dapat terlaksana munculnya kandidat pemimpin bangsa idaman yang dapat menyatu dengan rakyatnya, karena dengan persatuan dapat menghimpun potensi kekuatan bangsa lebih maju dan mandiri.
Kandidat pemimpin yang menjadi idaman kaum marjinal adalah tidak hanya pandai berjanji dan obral teori saja, serta tidak sekedar membuat slogan atau janji retorika belaka. Kini masyarakat lebih siap bersama-sama berperan serta dalam setiap tindakan nyata. Impian masyarakat menyerukan agar dapat dilakukan pembangunan dengan pendekatan peningkatan mutu kehidupan secara kualitatif. Pendekatan ini menarik untuk dilanjutkan, karena terkandung dinamika peningkatan mutu dalam suatu perubahan lingkungan yang seimbang. Meskipun akan muncul tantangan maupun kendala yang menghadang adanya kondisi keseimbangan lingkungan yang mengalami akselerasi secara kualitatif, tentu berupa peningkatan mutu hidup dan kualitas lingkungan melalui daya kreasi manusia dan daya dukung yang lestari. Pemimpin yang ideal harus memiliki solusi cerdas untuk mengatasi hal tersebut. Faktor pendukung yang menjadi pemikiran anak muda sebagai salah satu aspirasi masyarakat yang sederhana adalah adanya kondisi biofisikal yang membatasi pertumbuhan ekonomi, dan faktor kondisi etika sosial yang membatasi hasrat pertumbuhan dan kemajuan bangsa yang besar.
Bermodal semangat dan pekik perjuangan para pahlawan yang dapat menggetarkan hati, sebenamya kandidat pemimpin bangsa dapat mulai menumbuhkan rasa kebangsaan dan cinta tanah air. Kita sebagai generasi muda penerus semangat juang harus rajin belajar senyampang berjuang, mengabdi pada ibu pertiwi untuk mengisi kemerdekaan. Kandidat pemimpin bangsa perlu menimba ilmu dari keberadaan proklamator dan para pemimpin bangsa yang telah sukses menyejahterakan rakyatnya.  Mari bersama-sama, dengan bermodal semangat kemerdekaan kita tingkatkan prestasi dan kepribadian untuk masa depan bangsa! Mari, kita sebagai pewaris nilai perjuangan dan kepahlawanan, bersama-sama melestarikan budaya dan sejarah, agar generasi muda pada masa sekarang dan generasi selanjutnya tidak buta terhadap kekayaan budaya dan sejarah perjuangan bangsa Indonesia di masa lalu.
            Agar pembangunan dapat lebih bermanfaat bagi rakyatnya, fakta telah menunjukkan bila pembangunan tanpa melibatkan masyarakat setempat, akibatnya masyarakat yang akan menanggung risiko. Aspirasi kelompok masyarakat yang berkembang menginginkan rakyat-lah sebagai penentu utama perencanaan, pelaksanaan, dan pengontrol pembangunan. Pelestarian identitas, ciri khas, dan keunikan setempat dapat terangkat dengan memberikan tempat secara hukum, terlepas dari latar belakang sosial, etnis, dan jendernya. Menghormati hak ekonomi dan budaya merupakan upaya mengembalikan kedaulatan rakyat dalam menata ruang hidupnya. Kandidat pemimpin, lebih peka serta mengetahui terlebih dahulu bila rakyat perlu mendapatkan kesempatan untuk melakukan proses belajar bersama agar dapat menjadi pelaku utama dan proaktif, sehingga dapat memberikan sumbangan mendasar yang penting bagi tegaknya keadilan dalam perencanaan dan pengelolaan lingkungan yang berjati diri, layak huni, nyaman, dan lestari.          
            Rakyat telah lama mengharap, penanganan masalah lingkungan tempat tinggalnya dilakukan dengan berpegang pada kearifan lokal dalam mengatasi permasalahan kesejahteraan dengan peluang usaha dan kesempatan kerja. Tetapi juga dapat diupayakan program penanganan lebih serius dan terpadu agar betul-betul “melayani” sesuai dengan aspirasi, demokratis, mengandalkan sumberdaya, potensi, dan kompetensi lokal. Pengelolaan potensi dan kompetensi lokal secara partisipatoris, inklusif, demokratis dan berkelanjutan adalah menjadi tujuan utama penanganan lingkungan  tempat tinggal.
            Bekal pengetahuan yang perlu dimiliki kandidat pemimpin bangsa, adalah bagaimana dapat menangani pembangunan yang lebih terencana, terarah, manusiawi, serius dan terpadu diyakini dapat secara berangsur-angsur menyelesaikan masalah lingkungannya? Buruknya layanan hunian masyarakat kecil sesungguhnya karena ketidakmampuan dari segi ekonomi dan pendidikan, itu-pun dapat diatasi dengan pendekatan yang lebih diarahkan pada saling pemberdayaan ekonomi agar lebih banyak peluang usaha dan kesempatan kerja. Partisipasi masyarakat lokal di lingkungan masyarakat dalam kegiatan investasi sangat perlu ditunjang dan diperhatikan. Keterlibatan masyarakat lokal juga dapat dilakukan dengan mendorong masyarakat merebut peluang yang timbul sebagai efek suatu investasi. Apabila memimpin tanpa ada keseriusan melaksanakan kegiatan secara terpadu, tapi sendiri-sendiri secara sektoral dalam penanganan lingkungannya dengan tanpa memperhatikan kearifan lokal, program yang dijalankan tidak akan dapat menyelesaikan permasalahan utama untuk mengangkat kesejahteraan masyarakat dan keberlanjutan pembangunan secara tuntas.
            Keterpaduan penanganan pembangunan kelak, mempunyai implikasi efisiensi dan efektifitas dalam pola pendanaan, materi penanganan, waktu penanganan yang tepat sasaran sesuai kebutuhan rakyat. Pola penanganan pembangunan yang serius dan terpadu ditawarkan dengan tiga modal utama, yaitu adanya kelembagaan yang baik, keterbukaan dan partisipasi masyarakat yang makin menyatu. Kelembagaan yang menangani pembangunan lingkungan perlu dibenahi dan diperjelas lagi tentang peran dan tugasnya agar lebih efisien dan efektif sehingga tidak terjadi tumpang tindih program pembangunan.
Melalui keterbukaan dapat menggalang partisipasi masyarakat ke tingkat tertinggi yaitu kewenangan dan keputusan masyarakat menjadi jelas. Muaranya, pemimpin yang baik tidak hanya memberi perhatian kepada masyarakat yang mempunyai tingkat pertumbuhan ekonomi yang tinggi, tetapi juga harus dapat menciptakan masyarakat yang dinamis. Dalam hal ini, dinamis mempunyai nilai yang sama dengan proses pembangunan partisipatif, mewujudkan masyarakat yang mandiri dan dinamis di era demokrasi sebagai masyarakat yang para anggotanya memiliki kemampuan untuk berpikir alternatif.
Pada satu sisi pemimpin mempunyai hak kekuasaan yang besar. Kekuasaannya laksana ‘dewa’. Ia adalah pemegang hukum dan penguasa dunia. Pada lain pihak, ia mempunyai kewajiban yang besar dan berat. Ia suka memberi dan berkewajiban untuk konsisten melaksanakan apa yang dikatakannya secara benar. Kandidat pemimpin yang berkesempatan memegang tampuk kepemimpinan dan berkuasa hendaknya dapat lebur, berbaur dan menyatu dengan rakyatnya. Tidak hanya dekat dengan rakyat jelata, tapi penuh perhatian sertai dicintai, menjadi tumpuan harapan dan kebanggaan bagi rakyatnya. Ia sangat berbudi luhur dan bersifat adil, tapi juga penuh kasih sayang terhadap semua yang hidup. Pemimpin yang cerdik, cerdas, dan pandai mendahulukan yang harus didahulukan; kepemimpinannya dapat memberi suri tauladan.
Hak partisipasi anak yang diberikan akan membuat ia lebih tanggap, dapat bertindak cepat dan tepat dalam penanganan musibah dan bencana yang diderita rakyat secara bertubi-tubi. Kandidat pemimpin yang mempunyai sikap rela dan ikhlas untuk melayani masyarakat. Ia adalah abdi rakyat. Ia bersifat suka memberi, khususnya kepada rakyat miskin dan yang sedang mengalami musibah serta kesusahan. Dimanifestasikan pemimpin bangsa harus mampu berusaha untuk memberi sumbangan pada penyelamatan lingkungan hidup yang berarti pula menyumbang pada usaha menyelamatkan kemanusiaan di seantero bumi ini. Pemimpin harus dapat berlaku seimbang antara hak dan kewajiban. Kekuasaannya didasarkan pada budi luhur dan sifat adil.
Dalam rangka pencarian kandidat pemimpin bangsa tidak menutup kemungkinan bermunculan wanita sebagai pemimpin, seiring isu perempuan atau jender yang makin menguat. Frekuensi isu perempuan di media massa makin meningkat. Apalagi dengan adanya Hari Ibu dan Hari Perempuan. Ini wajar, karena hari depan kita ada di tangan perempuan. Perempuanlah yang mengandung dan melahirkan bayi. Apabila kesehatan ibu tidak baik, pertumbuhan janin-pun terganggu. Kini, kaum perempuan mempunyai kedudukan penentu bagi generasi yang akan datang. Namun peranan perempuan yang sangat penting itu tidak dapat dilaksanakan dengan baik karena pencemaran dan kerusakan lingkungan lainnya serta kemiskinan. Karena itu seyogyanya kita memperhitungkan perempuan dalam pengkaderan pemimpin bangsa. Bangsa Indonesia agar tidak menjadi bangsa yang terbelakang, yang hanya mampu merengek, mengirim tenaga kerja wanita yang tidak berkualitas.
Seorang kandidat pemimpin bangsa, selalu siap menjadi abdi rakyat dan dengan ikhlas serta rela melayaninya. Sifat kandidat pemimpin bangsa yang adil dan bijaksana ditunjukkan ketika memimpin berkewajiban memperhatikan semua golongan masyarakat dengan adil dan mendahulukan yang harus didahulukan. Pemimpin tersebut mau menerima saran dan kritik untuk berputar haluan merubah kebijaksanaan, memiliki “budaya malu” untuk secara ikhlas mundur dari tampuk kepemimpinan apabila tak mampu melaksanakan amanah serta terbukti melakukan kesalahan. Dalam bahasa kekinian perlu punya ‘simpati’ dan ‘empati’ pada rakyat yang masih miskin dan terbelakang, termasuk pula memberi akses seluas-luasnya kepada kaum perempuan yang kini masih mengalami diskriminasi dalam berbagai bidang. Telah tiba saatnya, dan kapan lagi kandidat perempuan mampu berkiprah, mempelopori dan memimpin bangsa dalam berbagai peran dan kegiatan nyata bagi tanah tumpah-darah dan ibu pertiwi dengan segenap jiwa raga?
Memperhatikan dan membantu kaum miskin dan perempuan tidak hanya dengan memberi pangan, sandang, dan papan, tetapi yang lebih penting lagi ialah dengan memberi kesempatan bagi mereka untuk berperan dan berkualitas. Kesempatan itu berawal dari luasnya lapangan pekerjaan dan peningkatan mutu pendidikan yang terjangkau rakyatnya. Dengan demikian, tugas penting pemimpin bangsa ialah berupaya meningkatkan kualitas sumberdaya manusia. Mampu menyatukan bangsa, tidak hanya bisa bersatu dengan rakyatnya, tetapi dapat memenuhi tuntutan dan harapan rakyatnya, memberi kesempatan yang adil dan merata serta memberikan kemampuan kepada masyarakat untuk memanfaatkan kesempatan tersebut adalah tugas memanusiakan yang mulia.
Agaknya, kandidat pemimpin bangsa yang ideal tersebut di Indonesia belum juga terwujud. Keterlibatan anak secara langsung dalam kegiatan perwujudan hak anak akan mampu membuahkan perkembangan dan kematangan jiwa mereka sebagai kandidat pemimpin bangsa. Persiapan kandidat pemimpin sejak anak usia dini, berawal dari peran orang tua, pemberian kebebasan memilih dan hak patisipasi anak, perubahan cara ajar dalam pendidikan, serta dimulai dari diri kita dan sekarang juga!
Yogyakarta, 10 Oktober 2009
Penulis,      

 Winner Indi Manega
                                                 Siswi Klas X RSBI 1, SMA Muhammadiyah 1 Yogyakarta
  Nomor Induk 17820/Nomor Absen 31