MENGAYUH, MENGAGUMI HERITAGE JOGJA

MENGAYUH, MENGAGUMI HERITAGE JOGJA
Oleh: Winner Indi Manega


Kebiasaan naik sepeda akan membuat kita lebih sehat. Tak hanya itu, semakin banyak orang bersepeda, udara menjadi lebih bersih dan tidak bising. Begitu populernya sepeda, yang menggunakannya adalah segenap lapisan masyarakat. Mereka menggunakan untuk transpor ke sekolahan, ke pekerjaan (Sego Segawe) dan tempat belanja atau sekedar untuk rekreasi berkeliling Jogja sebagai kota heritage yang menawan. Sepeda populer di kalangan rakyat kecil, karena sepeda adalah alat transpor yang murah. Untuk menggerakkannya tidak memerlukan Bahan Bakar Minyak (BBM), melainkan cukup dengan dikayuh. Apabila penggunaan sepeda dapat dibangkitkan lagi, kemacetan lalulintas akan berkurang, efisiensi penggunaan BBM meningkat dan biaya transpor berkurang.
Sepeda merupakan alat transpor yang sehat. Untuk menggerakkannya diperlukan tenaga manusia, yaitu dengan mengayuh atau ngonthel (Bahasa Jawa). Aspek kesehatan ini diakui masyarakat luas, terutama masyarakat lapisan menengah dan atas. Mereka membeli sepeda statis yang mahal harganya. Sepeda adalah alat transpor ramah lingkungan. Pencemaran yang disebabkan olehnya hanya gas CO2 dan uap air dari pernafasan pengendaranya. Karena efisiensi penggunaan energi pada sepeda lebih tinggi daripada dengan mobil. Penggalakan penggunaan sepeda akan mempunyai dampak yang besar pada lingkungan. Tidak pula ada gas yang menyebabkan hujan asam dan gas beracun serta debu halus yang menyebabkan penyakit asma. Tidak pula ada zat pencemar logam berat yang menghambat perkembangan sistem syaraf pusat pada anak-anak. Kebiasaan bersepeda, tidak membuat generasi penerus kita mempunyai kemampuan berpikir yang lebih rendah daripada kita. Kebiasaan mengayuh sepeda, berekses menurunnya pencemaran, kesehatan akan meningkat, sehingga biaya kesehatan turun dan kehilangan hari kerja karena sakit juga turun.
Peningkatan penggunaan sepeda akan memacu industri persepedaan. Produksi banyak onderdil sepeda dapat dilakukan oleh pengusaha kecil, misalnya rem dan sadel. Jadi akan menciptakan lapangan pekerjaan. Lapangan pekerjaan juga tercipta dari perakitan dan perdagangan sepeda. Selanjutnya dengan membangkitkan wisata bersepeda di kota Jogja yang penuh peninggalan sejarah dan purbakala akan tumbuh usaha penyewaan sepeda. Membiasakan penggunaan sepeda merupakan salah satu usaha menjadikan penduduk di kota pendidikan tumbuh sehat di lingkungan udara yang semakin segar. Jogja sebagai kota sepeda akan semakin populer heritagenya untuk kegiatan eko-wisata yang memihak rakyat kecil.
Walaupun sepeda mempunyai banyak sifat yang baik, namun membiasakan penggunaan sepeda menghadapi banyak kendala. Kendala terbesar adalah budaya. Kita sangat sadar pada simbol status. Sepeda dianggap sebagai kendaraan orang miskin. Naik sepeda dianggap tidak bergengsi, kalah dari motor, apalagi mobil. Alasan lain yang sering dikemukakan tidak mau naik sepeda karena beriklim tropik. Karena itu panas dan tidak sesuai untuk bersepeda. Tetapi kita kan orang tropik yang telah teradaptasi pada iklim tropik, seharusnya sudah terbiasa dengan suhu panas. Semestinya iklim bukanlah kendala untuk bersepeda.
Kendala lain ialah pengendara sepeda tidak mempunyai hak jalan. Sedikit sekali jalur khusus untuk sepeda. Tanda jalur alternatif terdekat untuk sepeda, hanya memberikan rasa tenteram bagi pengendara karena lebih dekat mengayuhnya. Apabila telah ada jalur sepeda, perlu dilestarikan, tetapi apabila belum ada perlu diusahakan, minimal dengan garis pembatas khusus untuk orang bersepeda. Bukankah jalur lambat sering dilanggar pelawan arus, tetapi tak ada wasit yang meniup peluit. Kini sudah terlanjur pohon peneduh ditebangi untuk pelebaran jalan. Meskipun jalan aspal menjadi lebar, tapi jalur sepeda menjadi satu dengan jalur mobil dan motor. Lebih runyam lagi jalur sepeda sudah kalah dengan jalur Bus Trans Jogja dan parkir kendaraan bermotor, bahkan jalur sepeda kalah dengan kaki lima di badan jalan.
Tak dapat dihindari, kelakuan pengendara motor dan mobil yang tidak menghormati hak jalan pengguna jalan lain. Adanya tanda jalur sepeda dengan cat putih kurang menjamin keamanan pengendara sepeda. Seyogyanya dibuat pemisah jalur secara fisik atau tanaman pembatas. Perlu dikaji adanya aturan bagi pengendara mobil dan motor yang membuat cedera pengendara sepeda dikenai hukuman lebih berat. Sulitnya mencari tempat parkir sepeda yang aman di Kota Sepeda Jogja, apalagi yang disertai karcis khusus parkir sepeda. Apabila tidak ada tukang parkir yang dilengkapi parkir sepeda, amankah sepeda dirantai pada tiang yang disediakan di tengah taman kota?
Mengayuh, mengagumi Jogja sebagai kota heritage diupayakan dikembangkan dengan berbagai inovasi, agar lebih banyak penggemar naik sepeda. Membiasakan mengayuh sepeda terkandung maksud selain mendukung program langit biru, juga untuk menumbuhkan semangat dan kunjungan wisata di kota budaya Jogja.

Yogyakarta, 11 Agustus 2009
Penulis,


Winner Indi Manega
Siswi Klas X RSBI, SMA MUHI Yogyakarta
Nomor Induk 17820/Nomor Absen 31

Rabu, 09 Februari 2011

”Kuatnya Akar Tradisi Batik Tulis”

”Kuatnya Akar Tradisi Batik Tulis”
Oleh: Winner Indi Manega

Semakin pudarnya budaya batik, adanya kecemasan akan kedahuluan hak paten, lesunya produksi batik tulis merupakan pertanda goyahnya akar tradisi budaya tempo dulu yang sangat tersohor sebagai budaya besar bernilai seni tinggi. Isu akan kehilangan hak paten batik tulis menjadi penting, karena isu tersebut mendapat perhatian besar dari masyarakat. Bagaimana usaha batik tulis berkembang, apabila perputaran produksi kurang bergairah? Akibatnya, karya hanya ditumpuk, tanpa ada perubahan yang menarik bagi konsumen, kegiatannya semakin lesu saja! Ketidakpopuleran batik telah menyurutkan semangat warga untuk memperhatikannya sebagai sandaran hidup. Padahal, kekuatan kelompok masyarakat yang penghidupannya dari membatik, merupakan akar pengembangan tradisi batik tulis yang lebih kuat menghadapi gelombang krisis keuangan, karena tak ada pilihan lain.
Batik dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu batik klasik dan batik modern. Penggunaan batik tidak hanya sebagai pakaian adat, akan tetapi sudah mengikuti perkembangan mode busana, bahkan biasa digunakan sebagai desain interior dan perlengkapan rumah tangga. Motif batik klasik dalam busana adat, penggunaannya disesuaikan dengan kedudukan sosial atau status dalam tatacara atau adat istiadat, misalnya motif parang rusak barong harus diterapkan pada busana raja, motif parang kusuma dipakai anak raja. Beberapa jenis motif yang paling sering diproduksi yaitu Sidoasih, Sidomukti, Sidoluhur, Parangkesit, Parangrusak dan Kawung. Motif Kawung yang menggambarkan ikatan bulatan sebagai simbol persatuan, apabila disimak lebih lanjut merupakan simbol bersatunya rakyat dengan pemimpin, lebih mendalam bersatunya manusia dengan Tuhannya. Simbol yang bernilai tinggi inilah yang perlu diturunkan agar supaya anak cucu generasi penerus selalu ingat pada Sang Pencipta. Apabila akar tradisi batik tulis yang bernilai seni yang tinggi ini dilestarikan secara menerus akan dapat memperbaiki moral bangsa, sehingga anak bangsa tidak mudah terombang-ambing oleh pengaruh buruk budaya asing yang masuk.
Batik tulis telah menjadi suatu komoditas yang nilainya ditentukan oleh kekuatan pasar. Persediaan bahan baku yang semakin terbatas, menyebabkan gejala kenaikan harga batik tulis tak terhindarkan. Bahan baku batik, pewarna alami merupakan sumber daya utama yang sangat kritikal, disamping pengadaannya yang semakin sangat terbatas, sifatnya memungkinkan untuk dikembangkan. Kini, bermunculan batik cap buatan pabrik berbahan baku kain yang panas, laris manis sangat terjangkau daya beli masyarakat. Seragam anak sekolah dan karyawan telah banyak memakai batik cap yang murah. Banyak wisatawan setelah membeli batik cap, bergumam: “Apa sih keistimewaan batik buatan Indonesia? Ternyata panas dan gatal dipakai”. Zat kimia pewarna pakaian menjadikan tidak laku untuk dikirim ke luar negeri, karena juga merusak lingkungan.
Tak ayal lagi, perlu dimasyarakatkan batik tulis murah untuk seragam. Bukannya tak mungkin, anak-anak dilatih untuk membuat batik tulis dengan motif tertentu untuk gemar memakai sendiri hasil karya yang telah dibuatnya. Jalan keluar lain adalah mencari upaya yang paling sesuai untuk meningkatkan kemampuan desain batik tulis yang ada agar dapat memberikan manfaat yang lebih besar lagi bagi kelangsungan budaya batik tulis yang lebih baik. Maka lahirlah upaya untuk mengkombinasi zat warna alami dengan batik cap bertujuan untuk memberikan vitalitas baru, dapat menekan harga agar murah. Kebijakan pelestarian batik mengacu Soemarwoto (2009) perlu diubah dari pembangunan berwawasan ekonomi menjadi pembangunan berwawasan budaya. Dengan perubahan ini kemunduran lebih lanjut dapat dicegah dan akhirnya dibalikkan. Berdasar kebijakan baru pelestarian batik, jika terjadi konflik antara ekonomi dan kebudayaan, kebudayaanlah yang diberi prioritas!
Jika ketiadaan pasar menjadi alasan utama bagi pengrajin batik tulis, setidaknya ada langkah yang harus ditempuh oleh para aktor, khususnya pemerintah. untuk mempromosikan pasar batik tulis, baik untuk konsumen domestik maupun mancanegara harus lebih ditingkatkan. Setidaknya pemerintah berinisiatif untuk membangun kawasan kerajinan untuk menjamin keberlangsungan persediaan dan permintaan batik tulis agar selalu tersedia. Fasilitasi, pendampingan, kemitraan, promosi dan pemasaran sangat diperlukan bagi kelompok pengrajin batik tulis yang masih lemah perekonomiannya. Upaya pelestarian budaya batik tulis, sasaran yang sebenarnya adalah para pengrajin batik tulis yang berperan sebagai ujung tombak bagi pertahanan budaya, agar tetap memiliki semangat dalam berkarya.
Kelompok masyarakat pengrajin batik tulis inilah sebenarnya merupakan sasaran utama pelestarian budaya yang kini menjadi incaran pengakuan untuk dicontoh, bahkan dipatenkan di negara lain. Bukannya mustahil hasil karya dapat serupa, namun kita tak perlu takut kehilangan tradisi batik tulis yang sesungguhnya telah mengakar dan mendarah daging di segenap sendi kehidupan kelompok masyarakat pengrajin.

Makna Tradisional Batik Tulis
Konsentrasi peran yang besar dalam pelestarian budaya batik tulis, tidak terlepas dari kenyataan bahwa batik tulis merupakan budaya adiluhung bangsa yang perlu dilestarikan dan diwariskan pada generasi muda untuk kegiatan produktif dan pengembangan ekonomi kerakyatan. Budaya batik tulis, dihasilkan oleh perjalanan hidup manusia dan diwariskan dari zaman ke zaman, dari generasi ke generasi. Menjadi citra dan jati diri sesuatu bangsa merangkum segala bentuk kecintaan seni batik berbagai motif milik bangsa. Kegiatan turun menurun membatik yang diwarisi bukan tradisi yang dimaksudkan, karena tradisi yang dimaksud adalah mempunyai nilai tertinggi, diturunkan dalam makna yang terkandung pada budaya daerah yang berfungsi sebagai identitas atau ciri tradisi. yang perlu dilestarikan.
Menilik betapa pentingnya fungsi ‘tradisi’ sebagai akar budaya batik tulis, akan diperoleh inti kajian yang sebenarnya sebagai organisme spiritual yang memberikan kepada manusia petunjuk dan tuntunan terus-menerus ke arah pengetahuan kembali, untuk selalu ingat kepada Tuhan Sang Pencipta (Hardjono, 1964). Identitas budaya batik tulis klasik motif dan cara pembuatan yang mengacu pada tradisi, tentu segala tingkatnya merupakan simbol dalam motif batik tulis dengan nilai tertinggi. Apabila ada nilai tradisional yang baik, walaupun ada sementara yang menganggap kuno, tidak seyogyanya ditinggalkan serta dilupakan hanya untuk suatu kemajuan. Justru, nilai-nilai tersebut kelak dapat memperkuat kemajuan bila dipelihara dan dikembangkan.
Seni batik tulis klasik mempunyai nilai yang tinggi, baik dalam susunan komposisi cara pengisian bidang yang dihias, ataupun dalam cara menstilir corak motif hiasnya. Pembagian bidang yang dibatik diatur dengan skala dan komposisi, sedang motif naturalis seperti daun, akar dan bunga maupun binatang distilir menurut kehalusan rasa. Oleh sebab itu dalam seni batik tulis klasik terlihat perpaduan yang harmonis antara rasa dan pikir. Biasanya seni batik tulis itu dijalin satu dengan seni tulis. Inilah suatu keistimewaan seni batik tulis klasik yang sering terdapat pada kain.
Setiap penciptaan motif batik klasik pada mulanya selalu diciptakan dengan makna simbolisme, meskipun telah dimodifikasi dengan selera modern. Oleh sebab itu batik tulis bukan semata-mata sebagai perwujudan “seni” untuk “seni”, atau sebagai pencurahan rasa “indah” saja. Tetapi hasil karya batik tulis, sesungguhnya dapat memberikan kesan lain yang lebih mendalam, yaitu kesan keindahan yang mendekatkan pada Ketuhanan dan peri kemanusiaan agar memberi kesejahteraan, ketenteraman, kewibawaan dan kemuliaan serta memberi tanda status sosial bagi si pemakai. Nilai tinggi yang dikejar selaras dengan nilai mutlak apabila mengacu pendapat Baker SJ, (1984) bahwa, hanya nilai mutlak menjamin benarnya nilai-nilainya yang dikejar manusia. Nilai yang dikejar memang ada berwujud batik tulis klasik yang merupakan hasil karya bernilai tinggi dari wujud kerjasama dan toleransi dalam kebudayaan antara seni batik dan tradisi daerah.

Menancapkan Akar Tradisi Batik Tulis
Akar tradisi batik tulis tumbuh dan berkembang dari kelompok masyarakat pengrajin batik sebagai penghidupan. Kegiatan membatik yang mendarah daging untuk penghidupan keluarga dilakukan secara turun-menurun berawal dipasarkan oleh kerabat terdekat. Ibarat akar yang ditancapkan dari benih biji, pasti tumbuhnya akan lebih kokoh dibanding dari benih cangkok. Akar tradisi budaya membatik yang diwariskan pada anak sejak dini, dapat membuat anak lebih mencintai dan menghargai batik tulis. Bagaimana mengkondisikan generasi muda untuk cinta pada seni dan paham pelestarian warisan budaya bangsa adiluhung, merupakan ajakan yang menantang, bukan?
Upaya perubahan penting, berawal dari saling pemberdayaan antara kelompok pengrajin batik yang kurang mampu dengan pihak luar seperti pemerintah, swasta, perguruan tinggi maupun lembaga swadaya masyarakat. Pemberdayaan yang dimaksud bukannya menganggap pengrajin kecil sebagai obyek, tetapi memposisikannya sebagai subyek pelestari batik tulis. Mempekerjakan pembatik dengan upah yang tidak sepadan dengan nilai jual, adalah bukan pemberdayaan yang dimaksud, karena yang diperkuat bukannya rakyat kecil, tetapi semakin memperkuat pemilik modal. Padahal sesungguhnya, pendamping atau pelatih dari pihak luar juga perlu belajar kepiawaian pembatik sebagai kearifan lokal. Munculnya bukan dilakukan pemberdayaan, akan tetapi saling pemberdayaan karena terjadi kesalingtergantungan yang sinergis. Bagi para pemilik modal yang biasanya melakukan pemberdayaan bagi pengrajin batik tulis, biasanya hanya merekrut tenaga pembatik sekedar untuk diberi upah. Kelihatannya ada inovasi teknologi dan desain batik, tetapi yang terjadi masyarakat kecil tetap tidak berdaya, semakin tidak mandiri. Kelompok pembatik yang lemah ini memerlukan fasilitas sarana dan prasarana pembatik, komitmen pelatihan, peningkatan manajemen dan pemasaran.
Batik klasik yang kita miliki sebagai hasil budaya mampu menjadikan ciri khusus yang berbeda dengan daerah lain sebagai kearifan lokal yang perlu dilestarikan. Batik klasik mempunyai nilai dan cita rasa seni yang tinggi, pembuatannya rumit, berpola dasar tertentu dengan berbagai macam variasi motif, seperti kawung, parang, nitik, truntum, ceplok, tambal dan lain sebagainya.
Untuk menyesuaikan gaya motif busana masa kini dengan ragam hias batik klasik mupun modifikasi, diperlukan variasi motif batik, baik gayanya, perubahan susunan gambar, sampai skema warna. Motif batik klasik yang biasa dipakai pada busana tradisi, masih bisa diadaptasi bentuk-bentuknya dengan mengeksplorasi warna maupun komposisinya. Apabila motif batik klasik tersebut diolah secara modern, maka penampilannya layak untuk dapat bersaing di pasar busana batik modern. Cara mengaplikasikan motifnya tidak hanya terpaku pada kain yang sudah jadi, tetapi bisa dengan membuat motif hias sendiri. Keluwesan desain dapat membuat busana batik tulis yang menarik dan disenangi konsumen, bermotif sederhana, tidak semua bidang dipenuhi dengan goresan ornamen atau bidang gambar.
Adanya sejumlah peluang pasar yang diberikan tidak dapat mencapai tingkatan laku jual dari keuntungan seperti yang diharapkan. Untuk menekan harga produksi batik tulis supaya tetap terjangkau, dilakukan efisiensi yang berhubungan dengan penggunaan sumber daya ekonomi yang terbatas sedangkan efektifitas berhubungan dengan pencapaian hasil sesuai dengan kualitas. Pelestarian dan pengembangan batik tulis diharapkan mencapai kedua aspek ini semaksimal mungkin. Isu efisiensi, efektifitas, dan akar tradisi untuk upaya pelestarian batik tulis dengan kesederhanaan motif hias dan pewarnaan alami merupakan hal yang perlu selalu mendapatkan perhatian! Prinsip yang perlu diperhatikan untuk menjawab isu, perlu membuat lebih dekat proses pengambilan keputusan dan pembiayaan suatu program pelestarian batik tulis terhadap kelompok sasaran. Hal ini untuk memperbaiki efisiensi program pelestarian, karena lebih sensitifnya program terhadap variasi lokal dan lebih tajamnya perumusan. Di lain pihak, pendekatan demikian juga akan memperbaiki efisiensi produk karena pembiayaan yang lebih langsung dari kelompok sasaran akan meningkatkan akuntabilitas lokal.
Adanya desentralisasi, untuk meningkatkan sensitifitas proses pengambilan keputusan dan pelaksanaan suatu program terhadap kebutuhan kelompok sasaran. Prinsip ini untuk meningkatkan efektifitas dan produktifitas. Adanya kompetensi yang sesungguhnya di dalam proses produksi batik tulis untuk keperluan pengadaan suatu program sehingga efisiensi dari pelaksanaan dapat dijaga. Hal ini membutuhkan keterlibatan pendamping, sektor swasta dan dipergunakannya prinsip mekanisme pasar yang sehat untuk proses produksi batik tulis.
Pembenahan pengelolaan keuangan memungkinkan dilibatkannya sumber daya keuangan swasta untuk investasi dan mendapatkan pemasukan secepat mungkin dan menerus dari kelompok sasaran pengrajin batik tulis untuk operasi dan pemeliharaan. Adapun peran pemerintah, swasta dan lembaga swadaya masyarakat dapat mengatasi masalah sarana dan prasarana bagi kelompok pengrajin batik bermodal kecil. Fasilitasi modal, peralatan dan ketrampilan pembatik sampai manajemen pengelolaan belumlah cukup bagi masyarakat perdesaan yang terbatas akses informasinya, sehingga perlu pendampingan kemitraan dan dihubungkan dengan peluang pasar. Agenda pelatihan, kunjungan wisata, promosi dan pameran di perkotaan diperlukan, mengingat keterbatasan arus informasi di perdesaan meskipun telah ada penggunaan teknologi internet dan media massa.
Program pelestarian perlu sensitif terhadap kepentingan lingkungan, seperti penanaman pohon untuk pewarnaan alami berikut pengelolaan limbah batik. Dipergunakannya teknologi tepat guna dan adanya kompetensi untuk pemilihan investasi, pengembangan desain batik tulis dan pelaksanaan infrastruktur berikut operasi serta pemeliharaannya. Hal ini dimaksudkan untuk efisiensi dan efektifitas dari suatu kegiatan pelestarian. Agaknya, belum semua kekayaan budaya batik tulis dikenali, dikualifikasi dan dispesifikasi. Potensi batik tulis belum diidentifikasi dan diinventarisasi secara rinci dan lengkap.
Potensi pengembangan batik tulis, baru “dikemas” dalam format terbatas, belum untuk jualan. Potensi kekayaan budaya adiluhung batik tulis yang ada belum terjual optimal. Potensi yang ada dijual dalam format dan kemasan apa adanya. Penjualan kekayaan budaya tidak dilakukan secara terstruktur, tetapi secara terlepas-lepas. Kita dapat menjual dengan kerangka kemitraan terdiri atas berbagai kelompok pengrajin merupakan bagian yang dapat distrukturkan dalam satu satuan manajemen produksi dan pemasaran batik tulis.
Kehidupan kelompok pengrajin batik tulis terbagi atas berbagai kawasan dan wilayah yang berbeda, sebenarnya merupakan satuan komunitas manajemen pelestarian dan pengembangan batik tulis yang perlu saling ada jaringan komunikasi dan kemitraan secara jelas. Menjual layanan potensi batik tulis dengan prinsip biaya perbaikan produksi dan pengantaran layanan dilakukan dengan dasar menghasilkan kembalinya biaya produksi untuk layanan yang lebih baik. Prioritas pada kelompok batik tulis, perlu disiapkan satuan pengelola jaringan komunikasi dan kemitraan yang memadai dan dapat menerima limpahan sebagian urusan produksi dan pemasaran.
Kekayaan warisan budaya batik tulis yang turun-menurun telah bercokol pada suatu komunitas di perdesaan ataupun di perkotaan dapat diarahkan untuk dikelola masayarakat sendiri, tapi selalu terbina manajemen serta pemasarannya. Supaya laku jual produksi batik tulisnya, dapat dibina melalui satuan manajemen profesional masyarakat secara mandiri agar “penjualan” dapat menghasilkan kontribusi pendapatan untuk membiayai pelayanan pasar. Selanjutnya, perlu diperbaiki sistem keuangan program batik tulis secara berkelompok. Apabila memungkinkan dilibatkannya sumber daya keuangan swasta untuk investasi dan mendapatkan pemasukan yang selangsung mungkin dan berkelanjutan dari kelompok sasaran agar meningkat operasi dan pemeliharaan dari suatu fasilitas yang diadakan melalui program pelestarian.
Bukankah kita justru bangga, bila hasil karya budaya batik tulis kita diperagakan di negara lain yang sebenarnya merupakan promosi kekayaan budaya asli Indonesia? Apabila kita merasa takut kehilangan sosok budaya batik tulis, seharusnya kita berlomba melakukan tindakan untuk saling memperkuat dan mempertahankan khasanah dan ragam budaya yang telah kita miliki. Perlunya alih generasi pengrajin batik tulis pada generasi penerus bangsa semakin digalakkan dan ditumbuh-kembangkan agar kembali kukuh, kuat bercokol sebagai akar kekuatan budaya bangsa yang besar dan adiluhung.
Bukankah ragam budaya di Indonesia yang melatar-belakangi sejarahnya masih mampu menangkap dengan baik pandangan pesimis tentang keampuhan budaya yang beraneka-ragam di tanah air? Persoalannya memang terkait erat dengan upaya pelestarian kerajinan batik tulis masing-masing daerah yang tetap mengacu pada makna simbolisme. Kekayaan peninggalan budaya batik tulis sebagai daya pikat untuk menarik banyak wisata dan pembeli. Seni budaya batik tulis yang bernilai tinggi sebagai motor penggerak pembangunan ekonomi yang dapat didasarkan pada pariwisata.
Selain wisata alam, keberadaan wisata batik tulis di suatu kawasan, akan dapat diketahui apabila ada kebiasaan pengrajinnya yang selalu berkumpul, mengelompok, demi serangkaian proses pembuatan yang tidak efisien bila dilakukan sendirian. Upaya pelestarian batik tulis yang dikembangkan, memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk melaksanakan pembangunan oleh masyarakat dan bersama masyarakat. Selaras dengan pernyataan Haryono Suyono et al (1997) jika dapat memanfaatkan warisan budaya kita sebagai potensi wisata, dapat menjadi sumber pendapatan yang sekaligus akan memperkutan usaha pencagarannya. Pariwisata yang dikembangkan bukan semacam desa-wisata yang dikelola orang kota pemilik modal, tapi eko-wisata yang berpihak pada rakyat miskin. Hal ini sesuai dengan konsep eko-wisata yang disarankan Cezayerli (2003) yaitu “pariwisata yang dikembangkan dengan dasar pro-rakyat miskin dapat memberi sumbangan yang berarti pada usaha penanggulangan kemiskinan”. Menilik betapa pentingnya upaya melestarikan budaya lokal dengan konsep eko-wisata sebagai langkah kemajuan dengan kebudayaan yang lengkap berlatar-belakang sejarah dan keadaan geografisnya sebagai ‘identitas daerah’.
Bukankah budaya kita terkenal “kuat” serta “tahan uji” dan tidak mudah terombang-ambing dipengaruhi oleh siapapun? Bukankah budaya kita merupakan budaya yang besar, adiluhung, berbadan samudra yang tidak mudah tergoyahkan oleh pengaruh budaya lain? Budaya batik tulis sebagai budaya bangsa yang adiluhung, perlu dilestarikan dan diwariskan pada generasi muda. Apabila keahlian membatik diturunkan sejak anak usia dini, artinya kecintaan seni batik dapat mengakar pada kehidupan masyarakat. Kebisaan mencintai seni budaya batik tertanam, apalagi anak mengetahui proses dan arti motif batik yang keseharian digeluti karena terlibat dalam pebuatan atau mempergunakannya sebagai pakaian dan hiasan. Kuatnya warisan budaya batik tulis yang telah mengakar meskipun terkena keringnya krisis keuangan, namun tetap diliputi keindahan dan kecintaan pada seni batik milik bangsa yang tak ’kan mudah lapuk oleh hujan, dan tak ‘kan lekang oleh jaman.
Tulisan ini tidak bermaksud untuk memberikan solusi akhir pelestarian batik tulis. Masalahnya pelestarian budaya batik harus menerus dan berkelanjutan. Ternyata ada dua fungsi dalam membangun hubungan pelestarian dan kesadaran. Pengalaman menunjukkan bahwa fungsi kedua, yaitu fungsi kesadaran rasa memiliki budaya bangsa yang besar seni batik tulis tidak dapat diabaikan. Kita harus menyadari adanya fungsi kedua ini, mendiskusikannya dan berusaha untuk melestarikan kekayaan budaya batik tulis yang adiluhung yang sangat perlu diwariskan pada generasi muda.
Yogyakarta, 30 Juni 2009
Penulis,


(Winner Indi Manega)

Bahan Bacaan:
Baker SJ, J.W.M. 1984. ”Filsafat Kebudayaan Sebuah Pengantar”, Kanisius, Jakarta.
Hardjono. 1964. ”Tradisi”, Fakultas Sosial dan Politik Universitas Gadah Mada, Yogyakarta.
Haryono Suyono, Edi Sedyawati dan S. Budhisantoso. 1977. Introduction. Dalam: Tourism and Heritage Management, Wiendu Nuryati, ed. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.
Cezayerli,G. 2003. Tourism more than sight-seeing. ADB Review, July-August 2003.
Soemarwoto Otto. 2009. “Pembangunan Berkelanjutan Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta”, Badan Perencanaan Daerah Provinsi DIY, Yogyakarta.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar