MENGAYUH, MENGAGUMI HERITAGE JOGJA

MENGAYUH, MENGAGUMI HERITAGE JOGJA
Oleh: Winner Indi Manega


Kebiasaan naik sepeda akan membuat kita lebih sehat. Tak hanya itu, semakin banyak orang bersepeda, udara menjadi lebih bersih dan tidak bising. Begitu populernya sepeda, yang menggunakannya adalah segenap lapisan masyarakat. Mereka menggunakan untuk transpor ke sekolahan, ke pekerjaan (Sego Segawe) dan tempat belanja atau sekedar untuk rekreasi berkeliling Jogja sebagai kota heritage yang menawan. Sepeda populer di kalangan rakyat kecil, karena sepeda adalah alat transpor yang murah. Untuk menggerakkannya tidak memerlukan Bahan Bakar Minyak (BBM), melainkan cukup dengan dikayuh. Apabila penggunaan sepeda dapat dibangkitkan lagi, kemacetan lalulintas akan berkurang, efisiensi penggunaan BBM meningkat dan biaya transpor berkurang.
Sepeda merupakan alat transpor yang sehat. Untuk menggerakkannya diperlukan tenaga manusia, yaitu dengan mengayuh atau ngonthel (Bahasa Jawa). Aspek kesehatan ini diakui masyarakat luas, terutama masyarakat lapisan menengah dan atas. Mereka membeli sepeda statis yang mahal harganya. Sepeda adalah alat transpor ramah lingkungan. Pencemaran yang disebabkan olehnya hanya gas CO2 dan uap air dari pernafasan pengendaranya. Karena efisiensi penggunaan energi pada sepeda lebih tinggi daripada dengan mobil. Penggalakan penggunaan sepeda akan mempunyai dampak yang besar pada lingkungan. Tidak pula ada gas yang menyebabkan hujan asam dan gas beracun serta debu halus yang menyebabkan penyakit asma. Tidak pula ada zat pencemar logam berat yang menghambat perkembangan sistem syaraf pusat pada anak-anak. Kebiasaan bersepeda, tidak membuat generasi penerus kita mempunyai kemampuan berpikir yang lebih rendah daripada kita. Kebiasaan mengayuh sepeda, berekses menurunnya pencemaran, kesehatan akan meningkat, sehingga biaya kesehatan turun dan kehilangan hari kerja karena sakit juga turun.
Peningkatan penggunaan sepeda akan memacu industri persepedaan. Produksi banyak onderdil sepeda dapat dilakukan oleh pengusaha kecil, misalnya rem dan sadel. Jadi akan menciptakan lapangan pekerjaan. Lapangan pekerjaan juga tercipta dari perakitan dan perdagangan sepeda. Selanjutnya dengan membangkitkan wisata bersepeda di kota Jogja yang penuh peninggalan sejarah dan purbakala akan tumbuh usaha penyewaan sepeda. Membiasakan penggunaan sepeda merupakan salah satu usaha menjadikan penduduk di kota pendidikan tumbuh sehat di lingkungan udara yang semakin segar. Jogja sebagai kota sepeda akan semakin populer heritagenya untuk kegiatan eko-wisata yang memihak rakyat kecil.
Walaupun sepeda mempunyai banyak sifat yang baik, namun membiasakan penggunaan sepeda menghadapi banyak kendala. Kendala terbesar adalah budaya. Kita sangat sadar pada simbol status. Sepeda dianggap sebagai kendaraan orang miskin. Naik sepeda dianggap tidak bergengsi, kalah dari motor, apalagi mobil. Alasan lain yang sering dikemukakan tidak mau naik sepeda karena beriklim tropik. Karena itu panas dan tidak sesuai untuk bersepeda. Tetapi kita kan orang tropik yang telah teradaptasi pada iklim tropik, seharusnya sudah terbiasa dengan suhu panas. Semestinya iklim bukanlah kendala untuk bersepeda.
Kendala lain ialah pengendara sepeda tidak mempunyai hak jalan. Sedikit sekali jalur khusus untuk sepeda. Tanda jalur alternatif terdekat untuk sepeda, hanya memberikan rasa tenteram bagi pengendara karena lebih dekat mengayuhnya. Apabila telah ada jalur sepeda, perlu dilestarikan, tetapi apabila belum ada perlu diusahakan, minimal dengan garis pembatas khusus untuk orang bersepeda. Bukankah jalur lambat sering dilanggar pelawan arus, tetapi tak ada wasit yang meniup peluit. Kini sudah terlanjur pohon peneduh ditebangi untuk pelebaran jalan. Meskipun jalan aspal menjadi lebar, tapi jalur sepeda menjadi satu dengan jalur mobil dan motor. Lebih runyam lagi jalur sepeda sudah kalah dengan jalur Bus Trans Jogja dan parkir kendaraan bermotor, bahkan jalur sepeda kalah dengan kaki lima di badan jalan.
Tak dapat dihindari, kelakuan pengendara motor dan mobil yang tidak menghormati hak jalan pengguna jalan lain. Adanya tanda jalur sepeda dengan cat putih kurang menjamin keamanan pengendara sepeda. Seyogyanya dibuat pemisah jalur secara fisik atau tanaman pembatas. Perlu dikaji adanya aturan bagi pengendara mobil dan motor yang membuat cedera pengendara sepeda dikenai hukuman lebih berat. Sulitnya mencari tempat parkir sepeda yang aman di Kota Sepeda Jogja, apalagi yang disertai karcis khusus parkir sepeda. Apabila tidak ada tukang parkir yang dilengkapi parkir sepeda, amankah sepeda dirantai pada tiang yang disediakan di tengah taman kota?
Mengayuh, mengagumi Jogja sebagai kota heritage diupayakan dikembangkan dengan berbagai inovasi, agar lebih banyak penggemar naik sepeda. Membiasakan mengayuh sepeda terkandung maksud selain mendukung program langit biru, juga untuk menumbuhkan semangat dan kunjungan wisata di kota budaya Jogja.

Yogyakarta, 11 Agustus 2009
Penulis,


Winner Indi Manega
Siswi Klas X RSBI, SMA MUHI Yogyakarta
Nomor Induk 17820/Nomor Absen 31

Selasa, 04 Februari 2014

”Kuatnya Akar Bangunan Gedung yang Andal”



By: Winner Indi Manega

Gencarnya arus perubahan yang terus menuntut lebih terbuka, adil, merata, demokratis dan memihak rakyat kecil semakin terasa seiring dengan merambahnya perubahan peluang pasar bebas bagi usaha rancang bangun konstruksi dan tuntutan mengatasi pemanasan global yang tak dapat ditunda. Bersatunya penentu kebijakan dan profesional ahli bangunan bersama pekerja yang mumpuni, mengerti dan memahami untuk membela nasib buruh bangunan serta bersikap ramah lingkungan perlu disiapkan sejak dini dan terus-menerus. Tak ayal lagi, siapa yang dicari kalau bukan kandidat pelaku rancang bangun konstruksi yang berkapasitas dan kompetitif, lebih peduli dengan nasib si buruh, dapat membuka peluang kerja, mengedepankan kaum wanita, mampu berdaya saing dan pandai menjaga keseimbangan lingkungan.
Mengapa seolah tak ada profesional ahli bangunan yang loyal, merancang dan membangun konstruksi secara andal, bisa arif menjaga kelestarian alam secara bersamaan dapat meningkatkan kesejahteraan? Tak ada yang mempunyai pandangan jangka panjang, melainkan “oportunistik” mencari keuntungan sesaat bagi golongan dan dirinya. Tak ada yang berpihak pada rakyat miskin. Rakyat hanya digunakan sebagai slogan melulu. Untuk itu, pemupukan jiwa profesi ahli rancang bangun sejak dini perlu dilakukan segera, artinya peran pendidikan dan orang tua menjadi utama untuk mengisi kandidat pelaku rancang bangun konstruksi yang unggul mampu berpihak pada rakyat dan melestarikan lingkungan.
Semangat dan komitmen yang tinggi terhadap kewajibannya, tidak meninggalkan jati-dirinya sebagai seorang profesional, bertakwa kepada Tuhan dan mempunyai rasa tanggung jawab yang tinggi terhadap kewajibannya. Berani mengambil keputusan yang benar, pandai menyampaikan amanah yang diemban pada khalayak. Tak gentar akan derasnya cercaan dan cobaan serta mampu mengatasi berbagai masalah maupun bencana yang tak kunjung henti secara arif dan bijaksana. Tumpuannya pada estafet sumber daya manusia yang kreatif, jujur, amanah, berkemampuan sesuai dengan kompetensi dan kapasitasnya, serta beretos kerja gigih untuk mampu bersaing. Sifat itu dapat terlaksana apabila ada idealisme, komitmen yang tinggi, integritas moral dan nurani yang bersih pada pelaku rancang bangun konstruksi. Hanya dengan sumber daya manusia yang demikian akan dapat terlaksana munculnya penentu kebijakan, pembuat regulasi yang bijak dan profesi ahli rancang bangun konstruksi yang dapat memikirkan pekerja dan buruh bangunan. Kenapa profesionalisme keahlian rancang bangun konstruksi menjadi penting? Hal ini disebabkan, karena dengan keahlian yang kompeten sesuai kapasitasnya dapat menghimpun potensi kekuatan merancang dan membangun bangunan gedung secara lebih andal dan berkelanjutan.

Anak muda harus berani menjanjikan masa depan yang dinamis dan maju. Dicari anak muda, berbakat, kreatif, jujur dan bermoral sebagai kandidat yang menunjukkan komitmennya  meneguhkan kemauan dan kemampuan profesi rancang bangun yang kelak untuk rakyat dengan hasil yang nyata bangunan lebih andal. Bukan hanya kandidat yang hanya pandai membangun sekaligus merusak lingkungan demi keuntungannya, melainkan kandidat pelaku rancang bangun masa depan, yang dituntut mampu membangun keandalan bangunan secara berkelanjutan. Pelaku rancang bangun berawal dari pemasok material, pekerja, tenaga ahli, pengusaha, pemilik bangunan hingga penentu kebijakan. Manusia memproduksi material dari bahan baku yang berasal dari alam, lebih lanjut mengacu pernyataan Harjanto (2003), agar ramah lingkungan eko material prosesnya menggunakan teknologi yang ada maupun baru, untuk selanjutnya digunakan untuk memenuhi keperluan hidup serta dalam rangka peningkatan kenyamanan.
Daur proses rancang bangun konstruksi sudah seyogyanya mampu menjawab kerusakan lingkungan yang kian parah, mampu menghadirkan konstruksi bangunan gedung yang andal, kokoh, kukuh kuat, aman, nyaman, asri dan lestari. Bangunan gedung yang andal sudah selayaknya tak lekang oleh panas, tak goyah oleh angin, tak lapuk oleh hujan; dan tak ayal lagi, dapat menyatu dengan alam serta mudah hancur di telan alam. Di tengah-tengah perubahan iklim, ganasnya pemanasan global, semakin parahnya kerusakan lingkungan, disertai keterbatasan sumberdaya dan energi, maka kegiatan rancang bangun konstruksi seharusnya mampu memberi kontribusi bagi upaya mitigasi hal tersebut. 
Keseluruhan bangunan gedung yang andal harus dilakukan secara profesional melalui proses yang memenuhi kaidah keteknikan secara baik. Disajikan secara utuh dan harus menunjukkan kekokokan, keawetan, keutuhan fungsi, memenuhi estetika dan aman bagi pemakai. Hasil akhir akan memberi nilai tambah bagi kesejahteraan masyarakat. Mampu menghasilkan kineja pengusaha rancang bangun konstruksi yang utuh di semua aspek, baik pada posisi perencanaan, pelaksanaan maupun pengawasan. Lebih andal lagi, konstruksi bangunan gedung dapat mengantisipasi setiap jenis kerawanan daerah  rawan bencana dengan mengikuti aturan spesifikasi bangunan di daerah rawan bencana.
Fenomena alam ini penting, menilik betapa bangunan gedung akan dapat dinyatakan memenuhi persyaratan laik fungsi apabila telah memenuhi persyaratan teknis, sebagaimana dimaksud dalam Bab IV undang-undang ini.” (UU 28/2002, pasal 37 (2). Untuk itu, pemanfaatan fungsi bangunan secara optimal akan dapat terpenuhi bila seiring dengan terpenuhinya prosedur kerja dan aturan perijinan secara benar. Ketenangan dan kenyamanan penghunian didapat, karena keandalan bangunan secara fisik dan non fisik terpenuhi jelas tidak bertentangan dengan norma, standard, dan adat masyarakat. Dalam rancangan produksi rancang bangun diusahakan agar pada akhir masa guna produk itu sebanyak mungkin komponen produk dapat didaur-guna dan didaur-ulang. Dengan demikian produk desain bangunan gedung menghasilkan buangan atau limbah yang minimum pada waktu masa gunanya habis. Di samping itu desainer juga merancang produk bangunan gedung yang mempunyai masa guna yang panjang. Desainer dapat menjadi alat dalam menciptakan pasar yang cukup untuk produk aman lingkungan. dapat meyakinkan klien bahwa desain yang sensitif secara lingkungan akan memperbaiki kualitas hunian dari kehidupan, kenyamanan, dan produktivitas, juga menghemat biaya operasi.
Perancang gedung yang sensitif secara lingkungan akan memperbaiki kualitas hunian dari kehidupan, kenyamanan, dan produktivitas, juga menghemat biaya proses operasi.  Sepintas dalam proses berkarya ini akan mengurangi volume tawar terhadap hasil karya. Tetapi dengan konsumen yang makin sadar terhadap lingkungan, bangunan gedung yang andal mempunyai masa guna yang panjang akan semakin disukai oleh konsumen. Proses berkarya mempunyai implikasi dalam pemilihan jenis masukan bahan dan energi. Pemasok bahan dan energi dipilih yang memenuhi syarat telah berusaha ramah lingkungan dan meminimumkan arus materi dan energi. Kelihatannya sederhana, akan tetapi mempunyai implikasi yang luas, sehingga dengan kesederhanaan ini mendapatkan lebih banyak materi dan energi dari sumber daya yang lebih sedikit.
Adanya globalisasi isu dan keprihatinan lingkungan hidup yang telah merambah pula dunia bisnis konstruski serta usahawan bangunan gedung tidak dapat lagi mengabaikan lingkungan hidup. Para desainer dan usahawan bangunan gedung harus bersikap ramah lingkungan. Barangsiapa berlaku anti-lingkungan hidup akan harus membayar mahal. Masyarakat yang menjadi konsumennya akan memilih produk lain dan cepat atau lambat daya saing mereka akan merosot. Mereka akan kehilangan pangsa pasarnya sehingga desain dan bisnisnya tidak lagi dapat hidup dengan berkelanjutan.
Kegiatan rancang bangun konstruksi gedung yang bertitik tolak dari proses berkarya desain, dimulai dengan merancang produk dengan tujuan meminimumkan kebutuhan bahan dan energi, maupun terbentuknya limbah. Melalui pendekatan ekologi pada masalah lingkungan hidup yang diakibatkan oleh aktivitas manusia dalam berkarya desain perlu dikembangkan peningkatan efisiensi proses berkarya, sehingga kebutuhan materi dan energi dapat ditekan sampai seminimal mungkin. Limbah proses berkarya dirancang untuk sebanyak-banyaknya didaur ulang atau menjadi produk samping bahkan dapat dipergunakan untuk karya lain.
Kuatnya akar bangunan gedung sesungguhnya bertumpu tidak hanya memenuhi norma, standar, pedoman dan kriteria saja, akan tetapi perlu ada serasi dan selaras seimbang dengan habitatnya. Selain berkualitas, bermanfaat dan berkelanjutan, diharapkan dapat memberikan nilai tambah bagi kesejahteraan, kedaulatan serta kebudayaan. Keandalan bangunan gedung tidak hanya ditentukan kokohnya pondasi dan kukuhnya kerangka atau kuatnya dinding penopang yang kuat, tapi juga, lingkungan dan kelengkapannya mudah dijangkau sehingga terpenuhi rasa aman, nyaman, sehat, asri dan lestari.  (Permen PU no 25/PRT/M/2007, halaman 3 sudah dimodifikasi)
Tulisan ini tidak bermaksud untuk memberikan solusi akhir bagaimana konstruksi gedung yang andal? Masalahnya, pelestarian alam kini lebih penting, sehingga bagaimana pembangunan dapat menerus tetapi tidak merusak alam namun melestarikannya hingga dapat memperbaiki sarana dan prasarana secara berkelanjutan. Ternyata ada dua fungsi dalam membangun hubungan konstruksi dan berkelanjutan. Pengalaman menunjukkan bahwa fungsi kedua, yaitu fungsi berkelanjutan rasa memiliki habitat tempat tinggal kita tidak dapat diabaikan. Kita harus menyadari adanya fungsi kedua ini, mendiskusikannya dan berusaha untuk melestarikan bumi pertiwi yang adiluhung ini, secara asri lestari diwariskan pada generasi berikutnya.
Yogyakarta, 22 September 2012
Penulis,

    (Winner Indi Manega)
Mahasiswi Jurusan Teknik Lingkungan,
 Nomor Mahasiwa 12513040
Fakultas Teknik Sipil, Universitas Islam Indonesia

Pustaka:
Harjanto Sri Eng, 2003. Ramah Lingkungan dan Eco Material, Departemen Metalurgi dan Material, FT Universitas Indonesia, Jakarta.
Peraturan Menteri PU No 25/PRT/M/2007 tentang Pedoman Sertifikat Laik Fungsi Bangunan Gedung